Fatahillah Ramli : Pakaiaan Adat Rimpu Harus menjadi Perhatian bagi Kementrian Pariwisata dan EKRAF

POJOKPUBLIK.ID – Negara Indonesia yang kaya akan suku bangsa mempunyai budaya yang berbeda-beda, budaya yang beragam menjadi kekayaan Bangsa Indonesia. Dengan menjadikan suatu atraksi yang menarik dan telah turun temurun merupakan upaya untuk melestarikan budaya agar tetap lestari. Pawai budaya memakai sarung dikepala atau disebut Rimpu Tembe, melibatkan seluruh unsur masyarakat Bima dari berbagai usia. Para perempuan Bima memakai pakaian rimpu dalam perayaan ini, tradisi ini sudah dilaksanakan sejak masa Kesultanan Bima,” Bima 30/08/22.

Kegiatan ini bertujuan untuk memupuk rasa cinta terhadap warisan budaya daerah karena pakaian adat Rimpu ini merupakan salah satu warisan leluhur dan harus dilestarikan sehingga tidak punah dimakan zaman. Perhelatan Pawai Budaya Rimpu Rakyat Kota Bima menyambut HUT RI Ke-77 tahun 2022 pada 27 Agustus. Data yang diperoleh dari lokasi pawai total peserta yang mengikuti mencapi 50 ribu orang. Pawai diikuti oleh 41 keluharan, perwakilan OPD di Pemerintah Kota Bima, hingga organisasi masyarakat dan kepemudaaan.
Fatahillah Ramli yang juga ikut hadir dalam pawai Rimpu ini sangat mengapresiasi kegiatan kebudayaan ini dan berharap ini meningkatkan pariwisata dan ekonomi masyakarakat Bima.

“Kota Bima adalah kota yang sarat akan budaya dan ada istiadat, kegiatan ini adalah bentuk apresiasi budaya yang dirayakan oleh masyakat dan pemerintah kota. Tentu sebagai orang Bima, saya mendukung dan begitu antusias, kita berharap kegiatan ini tidak hanya satu dua hari saja, tapi ada dampak yang terasa bagi pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Bima.” Ujarnya.

Untuk diketahui, Rimpu umumnya dikenakan oleh perempuan Bima. Ada dua jenis rimpu yang terdapat di daerah itu, pertama Rimpu Mpida atau rimpu kecil yang model pemakaiannya menutupi seluruh bagian muka, hanya mata yang terlihat. Jenis rimpu ini menandakan pemakainya perempuan yang belum menikah atau masih perawan. Pelaksanaan Festival Pawai Budaya pesertanya Terdapat berbagai macan suku,ras dan agama. Berbagai kalangan ikut pawai budaya bima dari berbagai Suku, Ras dan Agama melebur dalam sebuah kegiatan Pawai Rimpu tersebut.

Fatah juga berharap pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif lebih memberikan perhatian terhadap pakaian adat Rimpu yang punya nilai historis dan menjadi kebanggaan masyarakat Bima.

“Saya berharap pemerintah pusat melalui perpanjangan tangan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif lebih memperhatikan adat Rimpu, kalau bisa didorong menjadi warisan dunia dan diakui Unesco, sehingga budaya rimpu ini tidak hanya dikenal dikota Bima saja, tapi seluruh Indonesia bahkan dunia.” Ucap Fatahillah Ramli.

“Namun untuk kesana, perlu ada kolaborasi antara Pemerintah Kota dan Pemerintah Pusat, bagaimana kegiatan Pawai Rimpu ini bisa menjadi kegiatan nasional dan masuk dalam kalender event pariwisata yang dijadwalkan setiap tahunnya, sama seperti di Danau Toba, Labuan Bajo dan destinasi wisata favorit lainnya.” Tambahnya.

Pawai Rimpu adalah ajang “Pesta Rakyat” yang tentunya pesertanya adalah dari warga Kota Bima yang dalam pelaksanaannya peserta merasakan riang gembira. Antusias masyarakat memeriahkan HUT RI tahun ini, dengan dirangkai pawai budaya Rimpu tanah Bima, memberi nuansa baru bangkit dan terpaterinya nilai-nilai budaya daerah di Tanah bersemboyan “Maja Labo Dahu,” ini.

Pawai budaya Rimpu yang sekian lama dinantikan rakyat. 2 tahun keramaian ditahan terbelenggu covid-19, saat inilah ledakan semangat rakyat tanah Bima menunjukkan jati dirinya pada dunia, bahwa budaya Rimpu tanah Bima tidak akan pudar diterpa zaman.

You might also like