Banten

Gadis Kretek: Lawan Diskriminasi dan Bela Petani Tembakau

Avatar of Redaksi
×

Gadis Kretek: Lawan Diskriminasi dan Bela Petani Tembakau

Sebarkan artikel ini
Gadis Kretek: Lawan Diskriminasi dan Bela Petani Tembakau I PojokPublik

Tangerang Selatan – Sebagian petani tembakau merupakan masyarakat pedesaan. Keseharian mereka sangat dekat dengan pertanian dan industri hasil tembakau (IHT). Tentunya, keterlibatan mereka dalam pertanian dan IHT mempunyai kontribusi besar. Terutama peran perempuan di ruang publik. Meski di desa, perempuan tidak lagi terdiskriminasi dalam urusan domestik, tapi bisa setara dengan laki-laki.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Demikian salah satu penggalan penting yang terungkap dalam diskusi bedah novel dan film Gadis Kretek, yang diselenggarakan Yayasan Lentera Literasi bersama Komunitas Muda Pegiat Literasi, pada Jumat, 15 Desember 2023, di Kafe Piro, Pamulang, Tangerang Selatan.

Pemerhati tembakau Ari Hardi punya pandangan menarik. Menurutnya, jika dilihat secara komprehensif, semua perkara pasti ada sisi baik dan buruknya. Oleh karena itu, semua hal berkaitan tembakau mesti dikaji secara mendalam.

“Jangan kemudian, asal ada sisi buruknya, lalu harus dilarang atau dibuang. Mesti harus dikaji secara mendalam dan komprehensif. Misalnya, dengan tetap mempertahankan sisi yang baik, dan mengurangi dampak buruknya (harm reduction),” paparnya.

Jadi, bagi Ari, perlu ada payung regulasi yang memayunginya secara berkeadilan. Artinya, tidak hanya dipandang dari satu dudut pandang kesehatan saja, tapi juga perlu sudut pandang kontribusi dalam perkembangan ekonomi, baik mikro maupun makro.

Tak bisa dipungkiri, hingga kini Cukai Hasil Tembakau (CHT) merupakan sumber strategis pendapatan negara. Cukai rokok memiliki kontribusi terbesar pada total penerimaan bea dan cukai. Pada tahun 2022, kontribusi Cukai Hasil Tembakau (CHT) terhadap penerimaan negara sebesar Rp218,62 triliun atau 10,7 persen dari total penerimaan pajak APBN. Jumlah ini tentu masih belum menghitung kontribusi pajak lainnya.

Selain itu, kata Ari, Indonesia juga menjadi negara ketujuh terbesar sebagai pengekspor produk olahan tembakau dan cerutu dengan pendapatan $856,6 juta atau berkontribusi sebanyak 4 persen dalam percaturan ekspor tembakau dunia. “Sederet peran dan kontribusi petani tembakau ini mesti diapresiasi dan jangan dipandang sebelah mata,” pungkasnya.

Sementara, penikmat sastra dan juga novelis Alamsyah M Dja’far mengungkapkan, bahwa isu perempuan dan dunia kretek inilah yang menjadi kekuatan novel ini. Melalui kretek, penulis novel mampu mengikat beragam tema yang ia angkat: percintaan, pencarian jati diri, kehidupan perempuan, dan politik.

Gadis kretek mampu menyajikan perkembangan dunia kretek dari zaman ke zaman. Melalui kehidupan yang berliku, Industri kretek Soejagad Raya tetap bertahan, bahkan berkembang dan mengumpulkan keuntungan yang bertumpuk.

“Soejagad Raya seolah-olah mewakili wajah industri rokok di Indonesia yang berjaya dan tampaknya itu yang hendak ditonjolkan,” papar Alamsyah.

Meski begitu, Alamsyah juga menyoroti dua wajah industry kretek ini. Satu sisi membawa manfaat bagi kepentingan ekonomi, baik petani maupun pelaku bisnis IHT. Namun, di sisi lain, ada juga dampak secara kesehatan.

Kendati begitu, Aktivis Feminis Muda Vivi Handayani, dalam diskusi tersebut, menyebutkan bahwa saat ini ada pergeseran cara pandang di masyarakat. Dulu perempuan merokok itu biasa saja, sekarang hal tersebut tidak wajar dan seakan menjadi aib.

“Ini bukan berarti saya menganjurkan supaya perempuan merokok, tapi hanya menyoroti terjadinya perubahan cara pandang masyarakan dan image kepada perempuan yang cenderung sinis dan diskriminatif,” tandasnya.