Example floating
Example floating
Nasional

HIKMAH PENDIDIKAN DALAM SURAH LUQMAN

Avatar of Redaksi
×

HIKMAH PENDIDIKAN DALAM SURAH LUQMAN

Sebarkan artikel ini

 

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Moh Multazam, Ahmad Fadhli, Abdurrahman Siregar

Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir

Fakultas Ushuluddin Universitas PTIQ Jakarta

Email: regarisme@gmail.com

HIKMAH PENDIDIKAN DALAM SURAH LUQMAN I PojokPublik 

Abstrak

 

Tercapainya insan yang bertakwa dan mencapai kesuksesan hidup dunia dan akhirat, begitulah diantara tujuan dari sebuah pendidikan. Diantara surah yang ada dalam al-Qur’an, Surah Luqman merupakan salah satu surah yang didalamnya birbicara soal pendidikan. Keberadaan surah Luqman menjadi acuan bagi orang tua dalam mendidik anaknya. Hikmah dari surah Luqman khusunya soal nasihat seorang orang tua kepada anaknya sudah sangat sering didengar sehingga tersebut menjadi acuan. Selain itu bisa disimpulkan bahwa surah Luqman merupakan peringatan dan pembelajaran bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tua.  

 

Pada akhirnya, penulis ingin menggali pendidikan dalam persfektif al-Qur’an dalam hal ini akan mengurai beberapa ayat dalam surah Luqman. Selain itu definisi-definisi yang ditemukan dari kata pendidikan juga akan diuraikan.

 

Pendahuluan

Pendidikan merupakan hal yang penting menurut Islam. Pendidikan dalam Islam tidaklah sekedar proses alih budaya atau ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi juga proses alih nilai-nilai ajaran Islam (transfer of islamic values). Tujuan pendidikan Islam pada dasarnya menjadikan manusia menjadi insan yang bertaqwa dan mencapai kesuksesan hidup dunia dan akhirat.[1]

Al-Qur’an sebagai dasar pokok Islam mengandung nilai yang absolut, eksistensinya tidak mengalami penyesuaian sesuai dengan konteks zaman, keadaan dan tempat. Surat Luqman merupakan salah satu surat dalam al-Qur’an yang secara keseluruhan (umum) di dalamnya terangkat aktivitas pendidikan seperti penyadaran dalam agama, menumbuhkan, mengelola dan membentuk wawasan, akhlak dan sikap berislam yang baik, menggerakkan dan menyadarkan manusia untuk beramal shalih berdakwah dalam rangka memenuhi tugas kekhalifahan dan beribadah kepada Allah.

Keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama yang besar pengaruhnya bagi perkembangan anak. Walaupun tak jarang pengaruh tersebut terjadi karena lingkungan yang kurang kondusif. Mengingat begitu pentingnya peran keluarga di sini maka perlu adanya konsep pendidikan yang dapat membantu peran keluarga dalam mendidik dan membimbing anak dan keluarga. Konsep ini adalah pendidikan Islam.[2]

Konsep Pendidikan Islam adalah upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan dan pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan sebagaimana hakekat kejadiannya[3].

Al-Qur’an juga memuat banyak sekali kisah-kisah yang berisi pelajaran dan hikmah. Diantaranya adalah kisah seorang tokoh bijak bernama Luqman yang sedang memberikan nasehat kepada anaknya. Secara umum kisah tersebut merupakan peringatan dan pembelajaran bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tua. Kisah Luqman dimunculkan sebagai acuan orang tua dalam melaksanakan pendidikan terhadap anaknya.

Berdasarkan uraian diatas, kami mencoba menggali pendidikan dalam rumah atau keluarga perspektif al-Qur’an. Kami akan menjelaskan seputar definisi-definisi, kemudian derivasi kata-kata pendidikan dalam al-Qur’an dan kami akan mengkontektualisasikan pendidikan di rumah menurut surat Luqman. Kami berharap artikel ini bisa bermanfaat bagi pembaca. Kami juga menyadari banyak kesalahan dalam penulisan, dan kami membuka kritik dan saran demi membangun artikel ini lebih baik.

 

Definisi Pendidikan

Menurut KBBI, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang ataupun kelompok dalam upaya mendewasakan manusia melalui sebuah pengajaran maupun pelatihan.

Islam adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. yang bersumbe langsung dari Allah Swt, dalam islam terdapat tiga komponen nila (norma), yaitu: Pertama, norma aqidah atau norma keimanan seperti  iman kepada Allah, malaikat, al-Qur’an, rasul, hari kiamat dan taqdir.Kedua, norma syariah yang mencakup  norma  ibadah  dalam  arti  khusus  maupun  dalam  arti  luas  (yang menyangkut  aspek  sosial)seperti:  perumusan  sistem norma-norma  ke-masyarakatan; sistem organisasi ekonomi, dan sistem organisasi kekuasaan. Ketiga, norma akhlak, baik yang bersifat vertikal, yaitu hubungan antar manusia dengan Allah, maupun yang bersifat horizontal yaitu tata krama sosial.[4]

Sedangkan pendidikan islam adalah pendidikan Islam adalah proses bimbingan kepada manusia yang mencakup jasmani dan rohani yang berdasarkan pada ajaran dan dogma agama (Islam) agar terbentuk kepribadian yang utama menurut aturan Islam dalam kehidupannya sehingga kelak memperoleh kebahagiaan di akhirat nanti. Menurut M. Yusuf Al Qardawi, pendidikan islam adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan ketrampilannya. Karenanya pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya serta manis dan pahitnya. Sedangkan menurut Azyumardi Azra tokoh cendikiawan muslim indonesia, pendidikan islam salah satu aspek saja dari ajaran Islam secara keseluruhan. Karenanya, tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertaqwa kepada-Nya dan dapat mencapai kehidupan berbahagia di dunia dan akhirat.[5]

Pesan Luqman Hakim dalam al-Qur’an

Luqman merupakan sebuah nama yang diabadikan dalam salah satu surah yang ada dalam al-Qur’an. Ada kontroversi terhadap diri Luqman tentang siapa dia hingga layak diceritakan kisahnya dalam al-Qur’an dan nasihatnya menjadi rujukan banyak penelitian tentang bagaimana layaknya menjadi orang tua yang baik yang bisa menasihati anaknya. Dalam Tafsir Shawy[6] disebutkan bahwa Luqman adalah Luqman bin Faghur bin Nakhur bin Tarakh yang disebut juga dengan Azar. Ada yang mengatakan bahwa Luqman adalah anak saudara perempuan nabi Ayub, ada yang mengatakan Luqman adalah anak dari bibi nabi Ayub. Ada yang mengatakan bahwa dia hidup seribu tahun sehingga bisa bertemu dengan nabi Dawud. Ada satu kesepakatan bahwa Luqman bukan seorang nabi tapi seorang bijak kecuali pendapat Ikrimah dan al-Syukbi yang berpendapat bahwa Luqman adalah seorang nabi.  Perselisihan lain terkait diri Luqman adalah asal kotanya. Ada yang mengatakan dari Nuba (Namibia) dari penduduk Ailah, ada  juga  yang menyebutkan dari Etiopia. Pendapat lain mengatakan bahwa ia dari Mesir Selatan yang berkulit hitam. Ada lagi yang mengatakan dia seorang Ibrani. Profesinya juga diperselisihkan, ada yang mengatakan dia seorang penjahit, pekerja pengumpul kayu atau tukang kayu, ada juga yang mengatakan pengembala.[7] Pesan yang termaktub dalam al-Qur’an adalah sebagai berikut:

 

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ ١٣ وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ ١٤ وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ١٥ يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ ١٦ يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ١٧ وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ ١٨ وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ ࣖ ١٩

 

 

  1. (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.”

 

 

  1. Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.

 

  1. Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Ku kamu kembali, lalu Aku beri tahukan kepadamu apa yang biasa kamu kerjakan.

 

 

  1. (Luqman berkata,) “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya (untuk diberi balasan). Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Mahateliti.

 

  1. Wahai anakku, tegakkanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan.

 

 

  1. 18. Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.

 

 

  1. Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

 

Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak          

Sebab turunnya ayat 13-19 dari Surah Luqman tidak ditemukan ada-nya sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat tersebut, hanya saja dalam ayat 13 dalam Tafsir al-Misbah, diriwayatkan bahwa Suwayd ibn ash-Shamit suatu ketika datang ke Makah. Ia adalah seorang yang cukup terhormat di kalangan masyarakatnya. Lalu Rasulullah mengajaknya untuk memeluk agama Islam. Suwayd berkata kepada Rasulullah, “Mungkin apa yang ada padamu itu sama dengan yang ada padaku.” Rasulullah berkata, “Apa yang ada padamu?” Ia menjawab, “Kumpulan hikmah Lukman.” Kemudian Rasulullah berkata, “Sungguh perkataan yang amat baik ! Tetapi apa yang ada padaku lebih baik dari itu. Itulah al-Qur’an yang diturunkan Allah kepadaku untuk menjadi petunjuk dan cahaya.” Rasulullah lalu membaca-kan al-Qur’an kepadanya dan mengajaknya memeluk Islam.[8]

Diriwayatkan  bahwa  ayat  15  ini  diturunkan  berhubungan  dengan Sa’ad bin Abi Waqqas, ia berkata, “Tatkala aku masuk Islam, ibuku ber-sumpah bahwa beliau tidak akan makan dan minum sebelum aku me-ninggalkan agama Islam itu. Untuk itu pada hari pertama aku mohon agar beliau  mau  makan  dan  minum,  tetapi  beliau  menolaknya  dan  tetap bertahan pada pendiriannya. Pada hari kedua, aku juga mohon agar beliau mau makan dan minum, tetapi beliau masih tetap pada pendiriannya. Pada hari ketiga, aku mohon kepada beliau agar mau makan dan minum, tetapi tetap menolaknya. Oleh karena itu, aku berkata kepadanya, Demi Allah, seandainya ibu mempunyai seratus jiwa dan keluar satu persatu di hadapan saya sampai ibu mati, aku tidak akan meninggalkan agama yang aku peluk ini.  Setelah  ibuku  melihat  keyakinan  dan  kekuatan  pendirianku,  maka beliaupun mau makan.”[9]

Diriwayatkan pula bahwa Asma’ putri Abu Bakar pernah didatangi oleh ibunya. Waktu itu ibunya masih musyrikah. Asma’ berkata kepada Nabi bagaimana dia bersikap. Maka Rasulullah memerintahkannya untuk tetap menjalin hubungan baik, menerima dan memberinya hadiah serta mengunjungi dan menyambut kunjungannya.[10]

 

Pendidikan Anak: antara Normatif dan Aplikatif

Memahami ayat al-Qur’an bisa diawali dengan memahami terjemah harfiyahnya  mengingat  al-Qur’an  bukan  bahasa  orang Indonesia.  Dari terjemah tersebut akan timbul banyak pertanyaan tentang untuk apa sebuah ayat diturunkan, apa ada pertanyaan, apa ada sebuah peristiwa atau ayat tersebut adalah sebuah kisah mauidhah yang bisa diambil pelajaran bagi umat  yang  menganggap  al-Qur’an  sebagai  petunjuk  bagi  kehidupan manusia. Metode pendidikan yang termaktub dalam Surah tersebut menunjuk-kan metode yang bisa dijadikan pedoman oleh orang tua, yaitu:

  1. Metode mauizah (nasihat), metode ini berorientasi pada pembinaan nilai-nilai dengan cara menyentuh aspek emosi dan intuisi secara lebih intens.
  2. Metode ibrah  (perenungan),  metode  ini  mengajak  anak  untuk  me-ngembangkan nalar dan intuisinya dalam menemukan makna-makna esensial di belakang fakta-fakta empirik.
  3. Metode hiwar (dialog), metode ini melibatkan anak secara dialogis dalam proses pembelajaran, sehingga pengetahuan dan makna atau nilai dapat dikontruksi secara bersama-sama antara pendidik dan terdidik.
  4. Metode keteladanan yang baik, metode ini ditekankan agar nilai-nilai yang dibinakan kepada terdidik dapat terbaca secara konkret dari seluruh tindakan pendidik.
  5. Metode amsal (perumpamaan),  metode  pendidikan  ini  membantu pemahaman terdidik dengan menggunakan perumpamaan yang konkret untuk memudahkan memahami sesuatu yang abstrak.[11]

Ayat 13 -19 Surah Luqman merupakan petunjuk bagaimana seorang ayah (ingat ayah bukan ibu) memberikan nasihat kepada anaknya:

 

  1. Pendidikan Aqidah (Ayat 13)

 

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ ١٣

 

  1. (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.”

 

 

Kata yaidhuhu terambil dari kata wa’zh yaitu nasihat yang menyangkut berbagai kebijakan dengan cara yang menyentuh hati. Ada juga yang meng-artikan sebagai ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman. Pe-nyebutan kata ini sesudah kalimat dia  berkata untuk memberi gambaran tentang bagaimana perkataan itu beliau sampaikan, yakni tidak membentak tetapi penuh kasih sayang sebagaimana dipahami dari panggilan mesranya kepada anak. Kata ini juga mengisyaratkan bahwa nasihat itu dilakukannya dari saat ke saat sebagaimana dipahami dari bentuk kata kerja masa kini dan masa datang pada kata yaidhuhu.[12]

Luqman  menasihati  anaknya  tidak  menggunakan  kata baniy yang artinya anakku, tetapi menggunakan kata bunayya yang berarti anak kecilku, merupakan isim tasghir dan di dalam kata tersebut penuh dengan rasa belasdan kasih orang tua terhadap anak agar tidak menyekutukan Allah karena menyekutukan Allah termasuk dosa yang besar. Nasihat Luqman kepada anaknya merupakan nasihat tidak menggurui dan  tidak  mengandung  tuduhan,  karena  orang  tua  tidak  menginginkan kecuali kebaikan, dan orang tua hanya menjadi penasihat bagi anaknya. Luqman melarang anaknya dari perbuatan syirik, dia juga memberikan alasan atas larangan tersebut bahwa kemusyrikan itu adalah kedhaliman yang besar. Pernyataan Luqman tentang hakekat itu diperkuat dengan dua tekanan, yang pertama mengawalinya dengan larangan berbuat syirik dan alasannya yang kedua dengan menggunakan huruf inna yang berarti se-sungguhnya dan huruf la yang bermakna benar-benar.[13]

Nasihat orang tua terhadap anaknya bebas dari segala syubhat dan jauh  dari  segala  prasangka.  Sesungguhnya  perkara  tauhid  dan  larangan berbuat syirik merupakan perkara lama yang selalu diserukan oleh orang-orang yang dianugerahkan hikmah oleh Allah diantara manusia.

 

 

Dalam hal keagamaan, ada beberapa aspek yang sangat penting untuk diperhatikan orang tua, yaitu pendidikan ibadah, pendidikan pokok-pokok ajaran agama, pendidikan akhlakul karimah dan pendidikan aqidah islami-yah. Diantara karakter dasar anak adalah potensi kebaikan (keagamaan). Potensi ini  tentu bersumber pada  ajaran agama, ujung-ujungnya adalah sebuah sikap untuk mengenal dan mengesakan Tuhan. Dengan mengajar-kan beragama yang baik, secara tidak langsung memerintahkan anak untuk berbuat kebajikan. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam mengaplikasi-kan pendidikan ini. Orang tua dapat mengajarkan anak tentang mengenal Tuhan secara perlahan dari segala sesuatu yang kongkret (nyata), misalnya Tuhan itu Penyayang, Tuhan itu Pengasih dan lain-lain. Tuhan itu maha Kuasa  terhadap  segala  alam,  ingat  seorang  anak.  Menurut  al-Qur’an manusia (termasuk anak) adalah makhluk spiritual. Dia punya peranan yang penting dipanggung kehidupan dunia ini dan aktifitasnya diatur oleh prinsip dasar tertentu yang dilanggar akan menjadi orang jahat dan jika dipatuhi akan menjadi orang baik. Dari keadaan yang demikian, manusia sering disebut sebagai homo religius. Dengan ada fitrah beragama, manusia memerlukan pemenuhan kebutuhan rasa agama.[14]

Manusia yang sudah menempati posisi mengenal Tuhanya akan me-resapi kekuasaanNya sebagaimana janji primordial yang pernah manusia ucapkan dalam Surah al-A’raf ayat 172. Status yang sudah sesuai dengan kehendak Allah inilah yang dinamakan dengan status fitrah. Ini artinya manusia lahir dengan ilmu dan pengetahuan tentang kondisi ideal. Untuk  dapat  mewujudkan  pendidikan  ketauhidan  dapat dilakukan sejak lahir. Misalnya ketika lahir diadzani, memberikan nama yang baik, melaksanakan aqiqah, mengajarkan ibadah dan memberikan pendidikan sesuai dengan tingkat usianya. Anak  harus  diajarkan  untuk  meminta  pertolongan  hanya  kepada Allah, bukan yang lain, bahkan harus diajarkan tentang al-Qur’an sebagai pedoman.  Orang  tua  juga  harus  memperkenalkan  sifat-sifat  Allah  yang Maha  Pemurah,  Maha  Penyayang  dan  seterusnya.  Dengan  mulai  me-ngenalkan Allah sedikit demi sedikit maka anak akan mulai bisa mengenal  siapa Tuhannya, Kebesaran dan Kekuasaannya yang tentu saja dengan tata cara yang lembut. Kalimat indah yang disampaikan orang tua kepada anak yang masih kecil  akan  berbengaruh  pada  psikologi  anak,  dia  kan  ingat  terus  dengan kebiasaan  orang  tua  yang  berkata  lembut  dan  ada  kemungkinan  akan terulang  ketika  anak  tersebut  menjadi  orang  tua.  Dalam  pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani anak akan terikat pada kematangan anak.

 

  1. Berbakti kepada kepada Orang Tua (Ayat 14)

 

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ ١٤

 

  1. Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.

 

Ayat  di  atas  mengingatkan  seorang  anak  agar  mengingat  betapa seorang orang tuanya terutama ibu yang mengandung dengan susah payah, mulai dari mengandung sampai melahirkan dan menyapih sampai usia dua tahun. Ada beberapa ayat al-Qur’an yang berisi wasiat berbakti kepada orang tua, seperti ayat 8 Surah al-Ankabut, dan ayat 15 Surah al-Ahqaf. Namun ada perbedaan yang disebabkan kontek Surah Luqman ini adalah uraian tentang wasiat Allah bagi umat terdahulu, sedangkan Surah al-Ankabut dan al-Ahqaf merupakan tuntunan bagi umat Muhammad. Dalam kontek ini Ibnu Asyur mengemukakan riwayat bahwa Luqman ketika menyampaikan nasihat ini kepada anaknya, dia menyampaikan juga bahwa: “Sesugguhnya Allah telah menjadikan aku rela kepadamu sehingga Dia tidak mewasiatkan aku terhadapmu, tetapi Dia belum menjadikan engkau rela kepadaku maka Dia mewasiatkanmu berbakti kepadaku.”[15] Ayat di atas tidak menyebutkan jasa bapak tetapi menyebutkan jasa Ibu. Ini karena ibu berpotensi untuk tidak dihiraukan oleh anak karena  mahan ibu dan dalam kontek melahirkan peranan bapak lebih ringan dibanding ibu. Nasihat di atas bisa bermakna untuk anak agar mengingat jerih payah orang tua sekaligus mengingatkan orang tua bahwa ada kewajiban bagi orang tua untuk menjaga bayi meskipun masih di dalam kandungan. Orang tua harus memberikan harta yang halal agar agar anak lahir degan badan yang kuat dan jiwa dan akal yang sehat. Jangan sampai ada makanan yang syubhat atau haram yang dikonsumsi oleh keluarga karena hadis sudah jelas mengatakan bahwa yang haram itu jelas dan yang haram juga sudah jelas keterangannya.  Peranan ibu dalam keluarga sangat penting. Dialah yang mengatur, membuat rumah tangganya menjadi surga bagi anggota keluarganya dan menjadi mitra sejajar yang saling menyayangi dengan suaminya. Untuk itu sebagai seorang ibu menyususi adalah kewajiban utama dalam memenuhi kebutuhan jasmani anak pada waktu bayi. Selama dua tahun ibu menyususi anak nya dengan ASI. ASI atau air susu  ibu  merupakan  emulsi  lemak  dalam  larutan  protein,  laktosa,  dan garam-garam  anorganik  yang  disekresi  oleh  kelenjar mamae  ibu,  yang berguna sebagai makanan bayi. ASI merupakan cairan putih yang dihasil-kan  oleh  kelenjar  payudara  ibu  melalui  proses  menyusui.[16]

 

Adapun kandungan ASI adalah:

  1. Kolostrum, adalah air susu yang pertama kali keluar, yang disekresi oleh kelenjar payudara pada hari pertama sampai hari ke empat pasca persalinan. Kolostrum  merupakan  cairan  dengan  viskositas  kental, lengket, dan berwarna kekuningan yang mengandung rendah lemak dan laktosa. Di dalam kolostrum banyak mengandung protein, mine-ral, garam, vitamin A, nitrogen, sel darah putih dan antibodi yang tinggi dari pada ASI matur. Kolostrum juga merupakan pencahar ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bagi bayi yang akan datang.
  2. Air susu transisi/peralihan yaitu ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak hari ke-4 sampai hari ke-10. Selama dua minggu, volume air susu bertambah banyak dan berubah warna serta  komposisinya.  Kadar  imunoglobulin  dan  protein  me-nurun, sedangkan lemak dan laktosa meningkat.

 

  1. Larangan Taat Kepada Orang Tua dalam Hal Kemusyrikan (Ayat 15)

 

 

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ١٥

 

  1. 15. Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Ku kamu kembali, lalu Aku beri tahukan kepadamu apa yang biasa kamu kerjakan.

 

 

Jika orang tua menyuruh untuk berbuat syirik jangan pernah ditaati meskipun harus tetap bermuamalah dengan makruf di dunia. Ini artinya meskipun orang tua sebagai orang yang berjasa terhadap anaknya, tapi tetap saja orang tua adalah manusia biasa yang ada kekurangannya, sehingga tidak menutup kemungkinan jika  orang  tua  tidak  sefaham  atau  seiman dengan anaknya. Namun dengan kebijakan Allah maka ikatan tauhid tetap di nomer satukan, artinya Allahlah yang harus diutamankan bukan ikatan darah antara anak dan orang tua jika berkaitan dengan perintah orang tua yang menghendaki kemusyrikan. Dalam nasihat ayah kepada anaknya al-Qur’an memaparkan hubung-an antara kedua orang tua dengan anak-anak mereka dalam tata bahasa yang detil dan teliti. Allah menggambarkan hubungan ini dalam gambaran yang mengisaratkan kasih sayang dan kelembutan. Walaupun demikian sesungguhnya ikatan akidah harus dikedepankan dari hubungan darah yang kuat.[17]

Banyak orang tua yang sefaham dan seiman dengan anak tetapi tidak sebagai orang tua yang taat terhadap aturan agamanya. Seringkali bisa di-lihat orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah, anak memakai seragam berjilbab  sementara  ibunya  hanya  memakai  pakaian  seadanya  tanpa memakai hijab. Maka yang timbul dalam hubungan keluarga adalah tidak ada rasa kepercayaan anak terhadap agama yang dianutnya karena tidak ada figur dan contoh dari keluarga. Pada akhirnya anak juga akan berbuat sama dengan apa yang telah dilakukan orang tua terhadap anaknya. Maka menjadi wajib bagi orang tua harus untuk terlebih dahulu berbuat sesuatu yang mencerminkan ajaran agama kepada anaknya.

 

 

 

 

 

  1. Keimanan (Ayat 16)

 

يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ ١٦

 

  1. (Luqman berkata,) “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya (untuk diberi balasan). Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Mahateliti.

 

 

Wasiat  Luqman  selanjutnya  adalah  bahwa  apapun  yang diperbuat oleh manusia entah sebesar biji sawi, kecil, tertimbun di kedalaman bumi atau tingginya langit maka akan dibalas oleh Allah.[18]Ketika memaknai kata Khardal pada Surah al-Anbiya ayat 47, Quraisy Shihab  menukil  pendapat  dari  tafsir al-Muntakhab  yang  melukiskan  biji ersebut. Disana dinyatakan bahwa satu kg biji khardal terdiri atas 913.000 butir. Dengan demikian berat satu butir biji hanya 1/1000 gram dan me-rupakan biji-bijian teringan yang diketahui umat manusia sampai sekarang.[19]

Ayat di  atas mengisyaratkan  kepada  anak  agar  anak  yakin  bahwa apapun yang pernah dilakukan manusia maka akan dihitung. Dal hal ini orang tua juga harus mengajarkan kepercayaan atau keimanan terhadap Allah  kepada  anak.  Dengan  demikian  anak  tidak  berani  berbohong  di belakang orang tua karena yakin bahwa Allah tahu apapun yang terlihat jelas  atau  yang  tersembunyi  sehingga  amalan  sebesarkhardal  saja  akan dibalas oleh Allah. Orang tua harus mengajarkan konsep pahala dan dosa kepada anak supaya  dia  dapat  memahami  bahwa  semua  perbuatannya akan  di-pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Setiap anak pasti mempunyai sesuatu karya yang patut untuk dihargai, sekecil apapun bentuk karya yang dihasilkan tersebut selayaknya diberikan pujian atau penghargaan ynag maksimal. Tanpa disadari pujian ini menjadi motivasi dan semangat bagi anak-anak untuk terus belajar dan terus ber-karya. Jika tidak menghargai bahkan sampai diejek maka hanya membuat jatuh harga diri anak dan membuat anak trauma serta malas melakukan lagi. Menghargai apapun yang dikerjakan oleh anak, sekecil apapun akan membuat anak menjadi merasa diapresiasi kemampuannya. Menghargai prestasi, akan mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang ber-guna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghargai keberhasilan orang lain.

 

 

 

  1. Pendidikan Ibadah (Ayat 17)

 

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ١٧

 

  1. Wahai anakku, tegakkanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan.

 

Luqman berwasiat agar anaknya mendirikan shalat dan melakukan amar makruf dan menolak kemungkaran serta bersabar atas segala musibah yang menimpa, karena itu merupakan bagian yang diwajibkan oleh Allah.  Perintah  melaksanakan  shalat  ada  dua  pengertian  dalam  ayat  ini pertama, shalat yang mafhum di masa zaman Arab yaitu masalah ketuhan-an, doa, merayu Tuhan, memuji dan mengagungkan-Nya, sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Ahzab ayat 56. Ayat dalam Surah Luqman di atas aqimis shalah menunjukan makna doa, istighfar, rahmah dan maghfirah. Kedua shalat yang dipahami sebagai sesuatu yang dan disyari’atkan.[20]

Sikap  relgius  ini  dapat  ditanamkan  kepada  anak  usia  dini  dengan memberikan berbagai kegiatan keagamaan untuk anak. Misalnya mengajar-kan anak shalat secara bersama-sama, melatih anak berdoa sebelum makan dan sebelum tidur. Jika ditanamkan terus menerus maka nilai religiusitas pada anak akan tertanam. Luqman  meneruskan  dengan  beban  aqidah  dengan  perintah  amar makruf  dan  nahi  munkar  dan  bersabar  atas  segala  konsekuensinya. Segalanya adalah resiko dari pemegang akidah ketika melangkah dengan langkah-langkah yang merupakan tabiat dari akidah tersebut.[21]

Bersamaan  dengan amar  makruf  nahi  munkar,  bersabar  akan  segala konsekuensinya dan resiko yang harus dihadapi dan menimpa diri, maka seorang pendakwah harus beradab dengan adab seorang pendakwah yang menyeru kepada Allah, yaitu agar tidak sombong kepada manusia sehingga dengan perilaku tersebut dia merusak perkataan baik yang telah diserukan dengan contoh buruk yang dilakukannya.[22]Motivasi yang bisa diberikan kepada anak adalah orang tua menjadi teladan didepan anaknya. Dengan memberikan teladan yang baik maka sama  saja  sedang  beramar  makruf  dalam  bentuk  mendirikan  bangunan moral, spiritual dan etos sosial kepada anak. Seorang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang jujur, berakhlaq mulia, berani menghadapi tantangan dan konsisten.

 

 

  1. Pendidikan Akhlaq (Aya18-19)

 

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ ١٨ وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ ࣖ ١٩

 

  1. Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.

 

 

  1. Berlakulah wajar dalam berjalandan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

 

Nasihat Luqman kali ini berhubungan dengan akhlaq, sopan santun berinteraksi dengan sesama manusia. Materi pelajaran aqidah beliau selingi dengan materi pelajaran akhlaq. Bukan saja agar anak tidak jenuh dengan satu  materi  tetapi  juga  untuk  mengisaratkan  bahwa  ajaran  aqidah  dan akhlaq merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Beliau me-nasihati anaknya dengan berkata: “dan wahai anakku, janganlah engkau berkeras memalingkan pipimu, yakni mukamu dari manusia siapapun dia didorong oleh penghinaan dan kesombongan. Tapi tampilah pada setiap orang dengan wajah berseri dengan penuh rendah hati. Dan bila engkau melangkah janganlah berjalan dimuka bumi dengan dengan angkuh tetapi berjalanlah  dengan  lemah  lembut  penuh  wibawa.  Sesungguhnya  Allah tidak  menyukai  yakni  tidak  melimpahkan  anugerah  kasih  sayang-Nya kepada orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan bersikap sederhanalah dalam berjalanmu yakni jangan membusungkan dada dan jagan pula merunduk bagaikan orang sakit. Jangan berlari tergesa-gesa dan jangan juga dengan berlahan menghabiskan waktu. Dan lunakkan suaramu sehingga tidak terdengar kasar bagaikan teriakan keledai. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah keledai karena awalnya siulan yang tidak me-narik dan akhirnya tarikan nafas yang buruk.[23]

Kata fil ardh disebut oleh ayat di atas untuk mengisyaratkan bahwa asal kejadian manusia dari tanah sehingga dia hendaknya jangan menyombong- kan diri dan melangkah angkuh ditempat itu, demikian kesan dari al-Biqa’i. Ibnu Atsur memeroleh kesan bahwa bumi adalah tempat berjalan semua orang yang kuat dan yang lemah yang kaya dan yang miskin, penguasa dan rakyat jelata. Mereka semua sama sehingga tidak wajar bagi pejalan yang sama menyombongkan diri dan merasa melebihi yang lain.[24]

Nilai pokok yang disampaikan kepada anak adalah cinta damai. Cinta damai adalah sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang atas kehadiran dirinya. Cinta damai merupakan sikap yang patut untuk dilestarikan kepada anak-anak. Sejak kecil sikap cinta damai sudah harus dipupuk. Praktiknya dengan melatih anak untuk meinta maaf atau memaafkan, memohon ijin bila melakukan sesuatu yang melibatkan hak orang lain dan minta tolong bila membutuhkan bantuan orang lain. Kata mukhtalan terambil dari akar kata khayaal. Karenanya kata ini pada  mulanya  berarati  orang  yang  bertingkah  lakunya  diarahkan  oleh hayalannya, bukan oleh kenyataan yang ada pada dirinya. Biasanya orang seperti  ini  berjalan  angkuh  dan  merasa  dirinya  memiliki  kelebihan  di-bandingkan dengan orang lain. Dengan demikian keangkuhannya tampak secara  nyata  dalam  kesehariannya.  Kuda  dinamakan khail  karena  cara jalannya yang mengesankan keangkuhan. Seseorang yang mukhtal mem-banggakan apa yang dimilikinya bahkan tidak jarang membanggakan apa yang pada hakekatnya tidak dia miliki. Inilah yang ditunjukkan oleh kata fakhura yakni seringkali membanggakan diri. Memang kedua kata ini me-ngandung makna kesombongan. Kata yang pertama mengandung makna kesombongan yang terlihat dalam tingkah laku. Sedangkan yang kedua adalah kesombongan yang terdengar dari ucapan-ucapan. Disisi lain perlu dicatat  bahwa  penggabungan  dari  kedua  hal  itu  bukan  berarti  ketidak senangan Allah baru lahir bila keduanya tergabung bersama-sama dalam diri seseorang. Jika salah satu sifat itu disandang manusia, hal ini telah mengundang murka-Nya. Penggabungan keduanya pada ayat ini atau ayat lainya hanya bermaksud menggambarkan bahwa salah satu dari keduanya seringkali berbarengan dengan yang lain.[25]Bersahabat  atau  komunikatif merupakan  tindakan yang melibatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan orang lain. Persahabatan dan komunikasi sangat erat kaitannya. Untuk dapat bersahabat dengan baik dibutuhkan komunikasi yang baik pula. Seorang anak harus di-biasakan bersahabat dan berkomunikasi kepada anak-anak lain.  Melatih anak berkomunikasi akan membuat anak semakin tahu ke-butuhan adanya teman, tidak merasa bisa mengerjakan pekerjaan sendiri tetapi lebih pada membutuhkan orang lain.  Kata ughdhudh terambil dari kata ghadh dalam arti penggunaan sesuatu tidak dalam potensinya yang sempurna, maka dapat memandang ke kiri dan ke kanan secara bebas. Perintah ghadh jika ditujukan kepada mata, kemampuan itu hendaklah dibatasi dan tidak digunakan secara maksimal. Demikian juga suara. Dengan perintah di atas, seseorang diminta untuk tidak berteriak dengan sekuat kemamapuannya tetapi dengan suara per-lahan namun tidak harus berbisik.[26]

Sebagai orang tua, mulai sekarang harus berhati-hati dengan anak. Hindari kata-kata negatif, seperti membentak, terlalu menyalahkan terlebih memaki. Menurut praktisi emotional  intellegent  parenting, Hanny  Muchtar Darta, sering berkata negatif pada anak dapat membuat konsentrasi dan daya ingat mereka melemah. Hasil penelitian di Amerika yang dilakukan Taks  Force  for  Personal  and  Social  Responsibilities  juga  menyebutkan bahwa anak yang setia hari mendengar 432 kata negatif dan hanya men-dengar  32  kata  atau  kalimat  positif  maka  sebanyak  80%  dari  akat-kata tersebut berdampak negatif pada perkembangan spsikologinya. Karena itu butuh  komuniasi  secara  positif  dengan  anak-anak  agar  mereka  tumbuh cerdas san genius.[27]

Wujud memperhatikan psikologis anak bisa ditampilkan dalam bentuk sikap dan perkataan. Allah mewajibkan anak untuk berkata lemah lembut dan tidak menghardik orang tua ketika mereka telah pikun karena orang tua telah berlaku sabar dalam mendidik, bersikap lembut dan tidak menghardik anak ketika masih kecil. Balasan terhadap orang tua ini bukan tanpa tuntut-an tetapi orang tua harus lemah lembut dalam perkataan dan tidak meng-hardik anak. Anak kecil yang belum bisa berpikir rasional dan logis sama halnya seperti orang tua yang telah pikun. Anak kecil tentunya akan merasa senang dengan dunianya demikian juga dengan orang tua yang telah pikun. Penghinaan  dan  celaan  adalah  tindakan  yang dilarang  dalam  pen-didikan, sekalipun terhadap bocah kecil yang belum berumur satu bulan. Anak bayi sangatlah peka perasaannya. Ia dapat merasakan orang tua tidak senang dan tidak menyukainya melalui sikap, bahkan yang masih tersirat dalam hati orang tua, lebih-lebih lagi melalui perkataan yang jelas. Dengan memberikan teladan yang baik, maka sebenarnya orang tua sedang mem-persiapkan bangunan moral, spiritual dan etos sosial kepada anak.

 

Kontekstualisasi Ayat

Berbicara dengan kontekstualisai ayat tentu berbeda pemaknaan syirik saat zaman jahiliyah dengan zaman kemajuan teknologi saat ini. Zaman jahiliyah kesyikirakan itu mumcul atas persembahan-persembahan selain Allah seperti latta,uzza, manat dan hubal. Sementara zaman sekarang aktivitas persyirikan sudah masuk ke ranah abu-abu tidak lagi hitam-putih. Kalau bias disebut kontekstualisasi ayat ini, mungkin beberapa masyarakat menganggap bahwa sumber resekinya atas kepintarannya dan keahliannya semata.padahal semua itu kehendak Allah semata.

 

 

Penutup

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang ataupun kelompok dalam upaya mendewasakan manusia melalui sebuah pengajaran maupun pelatihan. Islam adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. yang bersumbe langsung dari Allah Swt, dalam islam terdapat tiga komponen nila , yaitu: Pertama, norma aqidah atau norma keimanan seperti iman kepada Allah, malaikat, al-Qur’an, rasul, hari kiamat dan taqdir.Kedua, norma syariah yang mencakup norma ibadah dalam arti khusus maupun dalam arti luas seperti: perumusan sistem norma-norma ke-masyarakatan; sistem organisasi ekonomi, dan sistem organisasi kekuasaan. Sedangkan pendidikan islam adalah pendidikan Islam adalah proses bimbingan kepada manusia yang mencakup jasmani dan rohani yang berdasarkan pada ajaran dan dogma agama agar terbentuk kepribadian yang utama menurut aturan Islam dalam kehidupannya sehingga kelak memperoleh kebahagiaan di akhirat nanti. Sedangkan menurut Azyumardi Azra tokoh cendikiawan muslim indonesia, pendidikan Islam salah satu aspek saja dari ajaran Islam secara keseluruhan.

 

Metode pendidikan yang termaktub dalam Surah tersebut menunjuk-kan metode yang bisa dijadikan pedoman oleh orang tua, yaitu:

  1. Metode mauizah (nasihat), metode ini berorientasi pada pembinaan nilai-nilai dengan cara menyentuh aspek emosi dan intuisi secara lebih intens.
  2. Metode ibrah  (perenungan),  metode  ini  mengajak  anak  untuk  me-ngembangkan nalar dan intuisinya dalam menemukan makna-makna esensial di belakang fakta-fakta empirik.
  3. Metode hiwar (dialog), metode ini melibatkan anak secara dialogis dalam proses pembelajaran, sehingga pengetahuan dan makna atau nilai dapat dikontruksi secara bersama-sama antara pendidik dan terdidik.

 

  1. Metode keteladanan yang baik, metode ini ditekankan agar nilai-nilai yang dibinakan kepada terdidik dapat terbaca secara konkret dari seluruh tindakan pendidik.
  2. Metode amsal (perumpamaan),  metode  pendidikan  ini  membantu pemahaman terdidik dengan menggunakan perumpamaan yang konkret untuk memudahkan memahami sesuatu yang abstrak.[28]

Ayat 13 -19 Surah Luqman merupakan petunjuk bagaimana seorang ayah (ingat ayah bukan ibu) memberikan nasihat kepada anaknya:

 

Daftar Pustaka

  • Mukodi, Nilai-Nilai Pendidikan dalam Surat Luqman, 2011, jounal UIN Walisongo, vol. 19, no.2.
  • Lukas Alam, Aktualisasi Pendidikan Islam dalam Keluarga (Perspektif Al-Qur’an Surat Luqman), 2006. (jounal MUADDIB Universitas Muhammadiyah Padang, vol. 06, no. 02).
  • Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, KesandanKeserasian al-Qur’an, Vol. 10.
  • Salman Rusydie, Kebiasaan-kebiasaanKhususPembuatDayaIngatAnakSemakinCemerlang, (Jogjakarta: Laksana, 2012).
  • Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an: Di Bawah Naungan al-Qur’an, Jilid 9, h. 165.
  • al-Maturidy, Takwilaat Ahli Sunah Tafsir al-Maturidi, (Bairut: Dar a-Kutub, 2005).
  • Anis, Sukses Mendidik AnakPerspektif al-Qur’an danHadis, (Yogyakarta: PustakaInsanMadani, 2009).
  • Muhammad Ahsin Sakho,  ,all., al-Qur’an  danTafsirnya,  (Jakarta:  LenteraAbadi, 2010,), h. 553.

[1]Mukodi, Nilai-Nilai Pendidikan dalam Surat Luqman, 2011, jounal UIN Walisongo, vol. 19, no.2, h. 430.

[2]Lukas Alam, Aktualisasi Pendidikan Islam dalam Keluarga (Perspektif Al-Qur’an Surat Luqman), 2006. (jounal MUADDIB Universitas Muhammadiyah Padang, vol. 06, no. 02), h. 164-165.

[3]Rahmat

[4]Mukodi, Nilai-Nilai Pendidikan dalam Surat Luqman, 2011, jounal UIN Walisongo, vol. 19, no.2, h. 432.

[5]https://wahdi.lec.uinjkt.ac.id/articles/ilmupendidikanislam, diakses 6 november 2022 pukul 16.44.

[6]al-Malikiy, Hasyiyah al-AllamahShawiyalaTafsir al-Jalalain, (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), Jilid 3, h. 313.

[7]M.  QuraishShihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, KesandanKeserasian al-Qur’an,  Vol.  10, (Jakarta: LenteraHati, 2009), h. 297.

[8]M. QuraishShihab, Tafsir al-Misbah, h. 296.

[9]Muhammad  Ahsin Sakho,  et.,all., al-Qur’an  danTafsirnya,  (Jakarta:  LenteraAbadi, 2010,), h. 553.

[10]M. QuraishShihab, Tafsir al-Misbah, h. 304.

[11]NashruddinBaidan, MetodologiPenafsiran  al-Qur’an,  (Yogyakarta:  PustakaPelajar, 1998), h. 89.

[12]M. QuraishShihab, Tafsir al-Misbah, h. 298.

[13]Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an: Di Bawah Naungan al-Qur’an, Jilid 9, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), h. 173.

[14]Muh. Anis, Sukses Mendidik AnakPerspektif al-Qur’an danHadis, (Yogyakarta: PustakaInsanMadani, 2009), h. 170.

[15]M. QuraishShihab, Tafsir al-Misbah, h. 300.

[16]SitiNurKhamzah, SegudangKeajaiban ASI yang HarusAndaKetahui, (Yogyakarta: FlashBooks, 2012), h. 37-38.

[17]Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an: Di Bawah Naungan al-Qur’an, Jilid 9, h. 174.

[18]al-Malikiy, Hasyiyah al-AllamahShawiyalaTafsir al-Jalalain, h. 316.

[19]QuraishShihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, KesandanKeserasian al-Qur’an, Vol. 10., h. 306.

[20]al-Maturidy, TakwilaatAhliSunahTafsir al-Maturidi, (Bairut: Dar a-Kutub, 2005), Jilid 8, h. 306.

[21]Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an: Di Bawah Naungan al-Qur’an, Jilid 9, h. 164.

[22]Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an: Di Bawah Naungan al-Qur’an, Jilid 9, h. 165.

[23]QuraishShihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol. 10, h. 312.

[24]QuraishShihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol. 10, h. 314.

[25]QuraishShihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, KesandanKeserasian al-Qur’an, Vol. 10, h. 315.

[26]QuraishShihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, KesandanKeserasian al-Qur’an, Vol. 10, h. 316.

[27]Salman  Rusydie, Kebiasaan-kebiasaanKhususPembuatDayaIngatAnakSemakinCemerlang, (Jogjakarta: Laksana, 2012), h. 100-101.

[28]NashruddinBaidan, MetodologiPenafsiran  al-Qur’an,  (Yogyakarta:  PustakaPelajar, 1998), h. 89.