Daerah

Madilog Marhaenisme, Aepdinlan Mendalami Filsafat Intelijen Hingga Sirrul-Asrar

David
×

Madilog Marhaenisme, Aepdinlan Mendalami Filsafat Intelijen Hingga Sirrul-Asrar

Sebarkan artikel ini
Madilog Marhaenisme, Aepdinlan Mendalami Filsafat Intelijen Hingga Sirrul-Asrar I PojokPublik
Foto (Red)

Pojokpublik.id Bandung – Aepdinlan mendalami keilmuan Archetype dari psikolog Carl Jung, Archetype adalah pola dasar, gambar, model bawaan dan universal dalam alam bawah sadar kolektif manusia, bagian dari sebagai ilmu pengetahuan, pola dasar yang mendasari pola-pola lainnya itu penting untuk mengembangkan pola lainnya.

Aepdinlan mengenal tokoh Tan Malaka dari zaman kuliah lewat lintas buku-buku yang dia baca, kebiasaan dirinya selalu mengimbangi membaca oposit dari buku dan keilmuan yang dipelajari.

Seperti Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung dalam psikologi, Tan Malaka dan Soekarno, Benny Moerdani dan Soeharto, Bisnis Konvensional dan Syariah, Strategi dan Kontra strategi.

menurut aepdinlan itu semua adalah satu kesatuan yang saling melengkapi, ibarat siang dan malam.

“Seperti dua sisi koin yang utuh dalam kesatuan koint.” katanya, Kamis (18/9/2025).

Kemudian, dari Tan Malaka aepdinlan belajar pembebasan pikiran dari segala bentuk penindasan dan kebodohan, Lalu dari soekarno aepdinlan belajar tentang aspek psikilogis manusia tentang itikad, sedangkan dari Benny Moerdani belajar tentang loyalitas pada Negara.

Begitu juga dalam Filsafat Intelijen Hendropriyono aepdinlan belajar tentang disiplin ilmu untuk umum namun art atau seninya belum tentu bisa dipelajari, karena bersifat khusus, sebagai warga sipil bagi aepdinlan menarik ketika membaca dan mempelajari keilmuan yang memiliki dampak walaupun dengan porsinya sebagai disiplin ilmu.

Sedangkan dalam Sirrul-Asrar, rasaning rasa, dari syekh Abdul Qadir Al-Jailani, aepdinlan memiliki aha moment tersendiri, menurutnya semua jenis buku harus dibaca tidak hanya tersuratnya saja akan tetapi dengan makna tersiratnya.

“Minimal 12 buku dalam 1 tahun beres dibaca,” pungkasnya.

Coba baca buku-buku Tan Malaka dan buku-buku Metafisika ataupun Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung, dunia Materi dan dunia imateri ada axis sumbu penghubungnya.