“Nilai Tertinggi Sebuah Bangsa Ada Pada Kemampuan Riset Dan Desain”
Pojokpublik.id Jakarta,-
Dunia sedang heboh melihat pesawat CN235 menjadi aktor kunci dalam operasi senyap penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, oleh pasukan khusus AS baru-baru ini. Memangnya kenapa dengan CN235?
Pesawat itu dipuji karena ketangguhannya mendarat di medan sulit dan profilnya yang “tak terdeteksi”. Tapi, bagi kita bangsa Indonesia, kebanggaannya lebih dalam dari itu. Pesawat yang dipakai oleh pasukan paling elit dunia itu bukan sekadar barang yang kita “rakit”. Pesawat CN235 adalah pesawat yang di “pikirkan” dengan matang.
Mari mundur ke tahun 1979. Saat itu, industri dirgantara dunia dikuasai raksasa seperti Boeing dan Airbus. Di kelas bawahnya ada Fokker, Bombardier, ATR, dlsb. Indonesia? Kita sering dianggap hanya pasar konsumen atau sekadar lokasi pabrik murah. Namun berani masuk ke level pasar menengah dengan mendirikan pabrik pesawat sendiri bernama Nurtanio di Bandung.
Tapi Pak B.J. Habibie punya visi lain. Beliau tidak mau Indonesia hanya jadi “tukang jahit” komponen. Beliau ingin kita jadi “arsitek”-nya. Apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki karakter yang khas untuk sebuah transportasi udara. Jadi pantas dan layak jika kita merancang desain pesawat sendiri yang cocok.
Maka, terjadilah manuver diplomasi teknologi yang brilian. Habibie menggandeng CASA (Spanyol), sebuah pabrikan Eropa yang levelnya setara—bukan sebagai bos dan anak buah, tapi sebagai mitra sejajar. Ini penting mengingat dunia aviasi di masa itu adalah simbol ekslusif.
Dari kerjasama ini lahirlah konsorsium bernama Airtech (Aircraft Technology Industries). Kesepakatannya gila dan berani untuk ukuran negara berkembang saat itu:
– Modal: 50% Indonesia, 50% Spanyol.
– Risiko: Ditanggung berdua.
– Desain & Kerja: Dibagi rata. Indonesia mendesain dan bikin ekor serta sayap luar, Spanyol bikin hidung dan sayap tengah.
Ini adalah momen di mana insinyur-insinyur muda Indonesia di Bandung dipaksa “memeras otak”, melakukan riset aerodinamika, menghitung struktur, dan berdebat teknis dengan insinyur Eropa. Hasilnya? Lahirlah CN235 (C untuk CASA, N untuk Nurtanio). Sebuah pesawat yang lahir dari keringat riset anak bangsa, bukan sekadar lisensi beli putus.
Nah lantas mengapa CN235 hari ini masih relevan dan dipakai Navy SEALs atau Delta Force? Jawabannya ada pada DESAIN.
Sejak awal, insinyur kita meriset kebutuhan geografis yang unik: negara kepulauan, landasan pendek, cuaca tropis, dan medan berbukit. Desain inilah yang membuat CN235 punya “sayap-kaki” yang kuat (STOL – Short Take-Off and Landing) dan “perut” yang lega, dengan pintu di belakang (ramp).
Kalau dulu kita cuma terima jadi (membeli desain orang lain), kita tidak akan punya kebanggaan ini. Kita cuma jadi tukang rakit. Tapi karena kita ikut MENDESAIN, kita punya hak intelektual. Kita punya knowledge yang tidak bisa dicuri.
Kisah CN235 ini adalah lonceng pengingat, sekaligus motivasi buat generasi muda Indonesia hari ini. Jadilah “The Brain”, bukan sekedar “The Hands”.
Di era AI dan teknologi digital, godaan untuk menjadi “pengguna” sangat besar. Kita mudah terlena hanya menjadi konsumen aplikasi, konsumen konten, atau sekadar operator mesin buatan luar.
Tapi ingatlah spirit “Tetuko”. Nilai tertinggi sebuah bangsa ada pada kemampuan Riset dan Desain. Jangan cuma jago pakai tools, tapi pahami konsep dan cara kerjanya. Jangan cuma bangga jadi target pasar, tapi mulailah menciptakan produk. Jangan takut kolaborasi dengan asing, asal posisinya setara dan kita punya hak kendali intelektualnya.
Hari ini CN235 membuktikan: Apa yang diriset dengan serius oleh anak bangsa puluhan tahun lalu, kini menjadi solusi yang dicari-cari oleh dunia.
Masa depan Indonesia bukan di tangan mereka yang sekadar bekerja keras, tapi di tangan mereka yang berani berpikir keras dan bekerja cerdas.
Terbukti ya? desain CN235 ini dapat menjawab dan menjadi solusi transportasi kepulauan negeri kita? Bahkan jadi solusi fungsi alutsista udara? Semoga Menteri Pertahanan dan Presiden Prabowo menyadari ini semua.(DW)
Ilustrasi: buatan AI













