
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro ditutup matanya dengan penutup hitam usai diculik dan diamankan di atas kapal perang AS. (FOTO: net.)
MS.Tjik.NG
Bismillahirrahmanirrahim Pendahuluan
Pojokpublik.id Jakarta,- Peristiwa penyerbuan Amerika Serikat ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro jika ditelaah melampaui sensasi berita bukan sekadar operasi militer atau pergantian rezim di Amerika Latin. Ia adalah titik balik (turning point) dalam politik internasional kontemporer: tentang kedaulatan negara, hegemonisme global, ekonomi energi, dan rapuhnya otoritas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di hadapan negara adidaya.
Untuk pertama kalinya dalam dekade modern pasca-Perang Dingin, dunia menyaksikan kepala negara berdaulat ditangkap secara langsung oleh militer negara lain, tanpa mandat Dewan Keamanan PBB. Ini bukan hanya soal Venezuela, tetapi tentang preseden global: siapa yang boleh ditangkap, siapa yang kebal hukum, dan siapa yang berhak menafsirkan keadilan internasional.
Tulisan ini membedah peristiwa tersebut dalam tiga lapisan utama:
Dampak politik internasional (overseas politics)
Implikasi ekonomi dan minyak dunia
Peran, keterbatasan, dan krisis legitimasi PBB
I. Venezuela dan Simpul Geopolitik Amerika Latin
Venezuela bukan negara biasa. Ia adalah:
Pemilik cadangan minyak terbesar di dunia
Simbol perlawanan terhadap dominasi AS di Amerika Latin
Sekutu strategis Rusia, China, dan Kuba
Sejak era Hugo Chávez, Venezuela secara ideologis menempatkan diri sebagai antitesis hegemoni Amerika.
Sanksi ekonomi, embargo minyak, dan isolasi diplomatik selama bertahun-tahun bukan hanya melemahkan ekonomi Venezuela, tetapi juga menciptakan narasi pembenaran intervensi: negara gagal, rezim otoriter, krisis kemanusiaan.
Penangkapan Maduro bukan peristiwa spontan, melainkan kulminasi konflik geopolitik panjang antara Washington dan Caracas.
II. Dampak Politik Overseas: Dunia yang Makin Terbelah
1 Preseden Berbahaya dalam Hubungan Internasional
Penangkapan kepala negara aktif oleh militer asing membuka kotak Pandora dalam politik global. Jika tindakan ini dinormalisasi, maka:
Tidak ada lagi jaminan imunitas kepala negara
Hukum internasional tunduk pada kekuatan militer
Dunia bergerak dari rule of law menuju rule of power
Negara-negara berkembang membaca peristiwa ini sebagai sinyal keras: kedaulatan bersifat kondisional, selama selaras dengan kepentingan negara kuat.
2.Polarisasi Global Baru
Dunia kembali terbelah dalam dua blok:
Blok legitimasi intervensi (atas nama demokrasi, HAM, narkoterrorisme)
Blok kedaulatan dan non-intervensi
Amerika Latin, Afrika, dan sebagian Asia melihat peristiwa ini sebagai neo-imperialisme modern, sementara sekutu AS melihatnya sebagai law enforcement global.
III. Dampak Ekonomi Global: Pasar, Ketakutan, dan Ketidakpastian
1.Reaksi Pasar Keuangan
Pasar global bereaksi dengan:
Volatilitas jangka pendek
Kenaikan aset safe haven (emas, obligasi)
Ketidakpastian investor di emerging markets
Namun yang paling penting bukan reaksi hari ini, melainkan ekspektasi jangka panjang: dunia menjadi tempat yang lebih tidak pasti bagi investasi lintas negara.
2.Ketidakpastian Investasi Global
Jika presiden negara bisa ditangkap oleh kekuatan asing, maka:
Risiko politik melonjak
Negara berkembang semakin sulit menarik investasi
Asuransi risiko geopolitik menjadi mahal
IV. Minyak Dunia: Mengapa Venezuela Sangat Penting
Venezuela memiliki lebih dari 300 miliar barel cadangan minyak, terbesar di dunia. Tetapi:
Produksinya anjlok akibat sanksi
Infrastruktur rusak
Teknologi terbatas
Penangkapan Maduro membawa dua kemungkinan ekstrem:
Stabilisasi pro-AS → investasi besar, produksi naik dalam 5–10 tahun
Chaos berkepanjangan → produksi stagnan, risiko pasokan global meningkat
Untuk saat ini, harga minyak tidak melonjak drastis karena:
Pasar sudah mendiskon risiko Venezuela
Produksi global relatif surplus
Namun dalam jangka menengah-panjang, Venezuela bisa kembali menjadi penentu keseimbangan energi dunia.
V. AS, Minyak, dan Politik Energi Global
Amerika Serikat memahami bahwa:
Kontrol atas energi = kontrol geopolitik
Venezuela yang stabil dan pro-AS berarti mengurangi pengaruh Rusia dan China
Energi adalah senjata strategis, bukan komoditas netral
Dengan demikian, operasi militer ini tidak bisa dilepaskan dari arsitektur kekuasaan energi global.
VI. PBB: Antara Prinsip Mulia dan Kenyataan Pahit
1.Mandat PBB dan Piagam yang Dilanggar
Piagam PBB secara tegas melarang:
Penggunaan kekuatan terhadap negara berdaulat
Intervensi tanpa mandat Dewan Keamanan
Namun dalam praktiknya, PBB:
Tidak memiliki pasukan independen
Bergantung pada negara besar
Terjebak veto politik
2.Dewan Keamanan dan Kebuntuan Struktural
Amerika Serikat sebagai anggota tetap:
Memiliki hak veto
Sulit disentuh mekanisme sanksi
Menjadi “hakim sekaligus pihak”
Inilah paradoks PBB: organisasi penjaga perdamaian yang lumpuh menghadapi negara adidaya.
VII. Krisis Legitimasi Hukum Internasional
Jika PBB gagal:
Negara akan mengandalkan kekuatan sendiri
Aliansi militer regional menguat
Dunia bergerak menuju balance of fear
Peristiwa Venezuela mempercepat transisi dunia menuju tatanan multipolar yang kasar, bukan multipolar yang adil.
VIII. Implikasi bagi Negara Berkembang (Termasuk Indonesia)
Bagi negara seperti Indonesia, peristiwa ini adalah alarm keras:
Diplomasi non-blok harus diperkuat
Ketahanan energi dan pangan jadi isu strategis
Ketergantungan pada satu kekuatan global sangat berisiko
Indonesia harus membaca dunia bukan sebagai arena moral, tetapi arena kepentingan keras.
Penutup:
Dunia Pasca-Venezuela
Penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat bukan hanya episode Amerika Latin, melainkan cermin masa depan tatanan global. Dunia sedang bergerak ke fase baru: hukum internasional melemah, kekuatan militer menguat, dan PBB diuji eksistensinya.
Pertanyaannya bukan lagi apakah tindakan ini benar atau salah, melainkan:
siapa yang akan menjadi korban berikutnya jika dunia membiarkan preseden ini menjadi normal?
Editor: Dwiwahyudi
والله اعلم بالصواب
C04012026, Tabik 🙏
Referensi :
Charter of the United Nations
Stephen M. Walt, The Hell of Good Intentions
John J. Mearsheimer, The Tragedy of Great Power Politics
Joseph Stiglitz, Globalization and Its Discontents
Daniel Yergin, The Prize: The Epic Quest for Oil, Money, and Power
Laporan International Energy Agency (IEA)
Analisis Reuters, AP News, Al Jazeera (2025–2026)
UN Security Council Resolutions on Sovereignty and Use of Force