Kiai Maman: Selamatkan Anak Indonesia, Jangan Tunggu Tragedi Lagi

Avatar of Redaksi
Redaksi
19 Feb 2026 23:13
4 menit membaca

Pojokpublik.id Jakarta – Suasana Tarhib Ramadhan di Pondok Pesantren Nurul Aulia, Citimun, Cimalaka, Sumedang, Minggu (15/2/2026), tiba-tiba menjadi sangat mendalam dan penuh haru. Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB, KH Maman Imanulhaq, yang akrab disapa Kiai Maman, tidak hanya menyampaikan pesan kebaikan bulan suci, tetapi juga mengangkat sorotan mendalam tentang meningkatnya persoalan anak di tanah air yang membuat hati menyakitkan.

Di hadapan ratusan santri dan masyarakat yang berkumpul, Kiai Maman mengaitkan momentum kedatangan Ramadhan dengan dua peristiwa memilukan yang baru saja mengguncang negeri ini: kasus bunuh diri seorang bocah di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dan kasus pembunuhan ibu oleh putrinya sendiri di Medan, Sumatera Utara.

“Ramadhan seharusnya menghadirkan kasih sayang yang mengalir hangat di setiap hati. Tapi sayangnya, tak lama sebelum kita menyambut bulan suci yang penuh berkah ini, bangsa kita ditampar oleh tragedi yang menyayat hati. Ada anak yang terpaksa memilih jalan paling akhir untuk mengakhiri hidupnya. Ada ikatan kasih sayang antara ibu dan anak yang hancur berkeping-keping karena kekerasan yang tumbuh dari dalam. Ini bukan sekadar berita kriminal yang bisa kita lewatkan begitu saja. Ini adalah jeritan terdalam dari generasi kita yang sedang terpuruk,” tegas Maman dengan suara yang penuh emosi saat bercerita kepada PikiranRakyat, Kamis (19/2/2026)

Menurut Maman, kedua peristiwa itu bukanlah sekadar kasus tunggal, melainkan sebuah alarm keras bahwa Indonesia kini sedang menghadapi krisis perlindungan anak yang sangat serius. Anak-anak bangsa, kata Kiai Maman, tidak hanya dihadapkan pada tekanan akademik dan sosial yang luar biasa, tetapi juga harus berjuang melawan kekerasan, perundungan, trauma mendalam, serta kehilangan ruang aman di mana mereka bisa membuka hati dan bercerita tentang apa yang mereka rasakan.

“Janganlah kita buru-buru menyalahkan anak-anak yang terlibat dalam masalah atau bahkan menjadi pelaku tindakan tragis. Sebelum itu, mari kita berani bertanya pada diri sendiri: di mana peran negara yang seharusnya melindungi mereka? Di mana lingkungan sekitar yang seharusnya memberikan dukungan? Di mana orang dewasa ketika mereka sedang berteriak dalam diam, meminta bantuan yang tak pernah datang?” ujarnya dengan nada yang meninggi, membuat seluruh peserta terdiam dan merenung.

Kiai Maman menegaskan, sebagian besar persoalan yang dihadapi anak-anak berakar pada pola asuh yang terlalu keras atau bahkan abai, relasi kuasa yang timpang antara orang dewasa dan anak, serta budaya tutup mulut yang masih mengakar dalam masyarakat terhadap berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di sekitar kita.

“Kita seringkali menyebut tindakan keras terhadap anak sebagai ‘mendisiplinkan’. Padahal, apa yang kita lakukan adalah melukai hati dan jiwa mereka. Pemukulan fisik, kata-kata yang menyakitkan, ancaman yang membuat takut – itu bukanlah pendidikan yang benar. Itu adalah kekerasan. Dan kekerasan tidak akan pernah menghasilkan kebaikan, melainkan hanya melahirkan luka dalam yang bisa berkembang menjadi tragedi yang tak terduga,” jelasnya dengan mata yang penuh kesedihan.

Ia juga tidak melewatkan untuk menyentil kasus anak-anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Menurutnya, banyak di antara mereka yang terlibat tawuran atau bahkan penyalahgunaan narkoba pada dasarnya adalah korban dari lingkungan yang telah rusak.

“Jangan sekali-kali kita mencap mereka sebagai sampah masyarakat. Mereka adalah anak-anak bangsa yang masih berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Bukan musuh negara yang harus kita hukum sekeras-kerasnya, melainkan generasi yang sedang terjebak dan harus kita bantu untuk diselamatkan,” ujarnya.

Kiai Maman mengingatkan bahwa pendekatan terhadap setiap kasus yang menyangkut anak harus selalu mengedepankan prinsip diversi dan keadilan restoratif, sebagaimana telah diamanatkan secara jelas dalam Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Selain itu, ia juga mengingatkan akan ancaman eksploitasi seksual dan perdagangan anak yang semakin kompleks seiring berkembangnya teknologi, termasuk melalui ruang digital yang seringkali menjadi medan baru bagi para pelaku kejahatan.

“Anak-anak kita hidup di dunia yang terus berubah dan tak sepenuhnya kita pahami. Jika negara terlambat dalam mengambil langkah, jika orang tua terus bersikap abai, jika sekolah tidak sigap dalam menangkap setiap tanda bahaya, maka yang harus menanggung akibatnya adalah mereka – generasi yang seharusnya menjadi harapan bangsa,” katanya.

Di tengah suasana Tarhib Ramadhan yang penuh kebersamaan, Kiai Maman mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan bulan suci ini sebagai titik balik dalam perjuangan melindungi anak-anak Indonesia. Menurutnya, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus dari matahari terbit hingga terbenam. Lebih dari itu, Ramadhan adalah revolusi kasih sayang yang harus kita hidupkan dalam setiap tindakan.

“Jika bangsa kita gagal melindungi anak-anak kita hari ini, maka sama saja kita sedang menghancurkan masa depan Indonesia dengan tangan kita sendiri. Mari kita bersatu untuk melakukan hal yang benar. Selamatkan Anak Indonesia. Negara jangan diam saja. Hukum harus tegas terhadap pelaku kejahatan yang membahayakan anak. Keluarga harus menjadi tempat yang hangat dan penuh kasih. Masyarakat harus lebih peduli dan tidak lagi memilih untuk melihat ke arah lain. Jangan tunggu tragedi berikutnya baru kita mau bergerak,” pungkasnya, membuat banyak peserta mengangguk dan beberapa di antaranya menangis terdiam.

Hari Jadi Pandeglang
x
x