
Pojokpublik.co(LEBAK)– Akselerasi(percepatan)
industri di wilayah perbatasan Kabupaten Lebak, khususnya di Desa Nameng dan Citeras, Kecamatan Rangkasbitung, terus berkembang. Merespons hal tersebut, DPP LSM Nusantara Indah Lingkungan (LSM-NIL) bersama Padepokan Kisakar Dirgantara berkomitmen mengawal keselarasan antara iklim investasi dan kesejahteraan warga Ring 1.Ketua Umum DPP LSM-NIL sekaligus Pembina Padepokan Kisakar Dirgantara, Maehakih (Michael), menyatakan bahwa lembaganya berfokus pada penguatan karakter masyarakat serta mitigasi dampak ekologi di hilir kawasan industri.
Langkah awal kami lakukan secara swadaya. Mulai dari pembinaan tata krama generasi muda melalui seni kendang pencak silat bantuan Disbudpar Lebak, hingga penyewaan Tanah Bengkok Desa Citeras seluas ±6.000 m² untuk fasilitas olahraga dan wisata religi warga,” ujar Michael, Jumat (04/09/2026).
Michael menegaskan bahwa Padepokan Kisakar Dirgantara didirikan murni secara gotong royong dan berstatus milik bersama masyarakat Kampung Angsana, bukan perorangan. Nama ‘Dirgantara’ disematkan sebagai harapan agar syiar manfaat paguron ini dapat meluas tanpa batas.
Model kemitraan hubungan sosial-lingkungan yang diusung LSM-NIL sejauh ini telah berjalan baik dengan beberapa korporasi eksis di kawasan tersebut, seperti PT Duckil Textile, PT Aplus Pacific, dan PT Sejin (eks pengelola kawasan).
Keberhasilan sinergi ini kini coba diterapkan pada investor baru di wilayah hulu, yaitu PT Joymax Footwear Indonesia 2. Melalui surat permohonan audiensi resmi nomor 01.12/DPP/LSM-NIL/KMT-JOYMAX/IX/2026, Michael mengajukan konsep kesepakatan timbal balik (win-win solution) dengan dua poin utama:
• Penyelarasan Humas & Kondusivitas Wilayah: Menempatkan unsur pimpinan padepokan (yang juga aparatur RT setempat) di jajaran hubungan internal/eksternal perusahaan sebagai jembatan komunikasi preventif guna meminimalisir gejolak sosial.
• Rekrutmen Satu Pintu Terpadu Ring 1: Mengoordinasikan penyaringan tenaga kerja lokal secara transparan melalui validasi lembaga adat guna memastikan pemenuhan hak warga terdampak sekaligus menjamin sistem bersih (Zero Pungli). Sebelum direkomendasikan ke HRD, calon tenaga kerja dibekali pembinaan mental dan kedisiplinan di padepokan.
Fokus krusial yang saat ini didorong oleh LSM-NIL adalah normalisasi Kali Ciliwet yang mengalami pendangkalan parah. Akibat sedimentasi tersebut, hujan dengan intensitas rendah sekalipun langsung memicu luapan air yang merendam tiga rumah warga, fasilitas Padepokan Kisakar Dirgantara, serta situs wisata religi Sumur Keramat Kisakar yang kini mulai rata dengan tanah akibat tertimbun lumpur.
LSM-NIL telah merancang program pembuatan Tanggul Penahan Tanah (TPT) di sepanjang aliran sungai serta pengerukan kedalaman Kali Ciliwet secara menyeluruh. Namun, realisasi fisik tersebut terkendala pembiayaan yang besar.
Rencana fisik ini membutuhkan estimasi anggaran yang besar sehingga tidak mungkin diselesaikan secara swadaya. Oleh karena itu, kami bergerak maraton melayangkan dokumen proposal ini ke berbagai instansi pemerintah—dari tingkat Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, hingga Kementerian terkait di pusat,” urai Michael.
Melalui langkah kolaboratif ini, LSM-NIL ingin melibatkan seluruh instansi pemerintah dan sektor industri untuk melakukan intervensi anggaran serta teknis secara terpadu.
Kami ingin program perlindungan warga, normalisasi lingkungan, dan perlindungan investasi ini didukung penuh oleh semua instansi pemerintah agar menjadi percontohan sinergi industri dan masyarakat adat yang sehat,” pungkas Michael.
**(A.Murdiana)
