Aliansi Pemuda Desa Padasuka.Pojokpublik.id Lebak – Suasana yang semula diharapkan menjadi ruang dialog justru berubah menjadi panggung ketegangan yang sulit dibendung. Pertemuan antara Pemerintah Desa Padasuka, BPD, unsur keamanan dari Polsek Maja dan Koramil Maja, serta Aliansi Pemuda Desa Padasuka pada Senin (30/3/2026). berakhir bukan dengan mufakat, melainkan dengan luka yang menganga.
Agenda pembahasan rencana pembangunan Gedung Koperasi Desa Merah Putih di atas satu-satunya lapangan sepak bola milik warga menjadi titik pecah. Lapangan yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat tempat anak-anak berlari, pemuda bertumbuh, dan warga menjalin kebersamaan kini terancam hilang atas nama pembangunan.
Sejak awal forum, para pemuda hadir dengan satu harapan sederhana: didengar. Mereka tidak menolak pembangunan. Mereka tidak anti kemajuan. Namun mereka meminta dengan tegas agar pemerintah desa mencari lokasi alternatif yang tidak mengorbankan satu-satunya ruang publik yang dimiliki masyarakat.
Sayangnya, harapan itu perlahan runtuh.
Forum yang semestinya menjadi ruang dialog berubah menjadi monolog sepihak. Para pemuda merasakan adanya tekanan dan kesan pemaksaan kehendak dari pihak desa. Ketika ruang aspirasi tertutup rapat, keputusan pun diambil Aliansi Pemuda Desa Padasuka memilih walkout sebagai bentuk protes atas sikap yang dianggap tidak menghargai suara rakyat.
Di tengah suasana yang memanas, Kepala Desa Padasuka, Saudara Dudi Ridwan, yang hadir di penghujung forum, justru melontarkan pernyataan yang menyulut emosi:
“Pembangunan akan tetap dilaksanakan!”
Kalimat itu seperti petir di siang bolong menghantam perasaan para pemuda yang sejak awal berharap adanya ruang kompromi.
Tak tinggal diam, perwakilan pemuda, Saudara Didi, berdiri dengan penuh emosi dan keberanian. Dengan suara lantang ia menyatakan: “Kalian sudah mati suri!”
Pernyataan itu langsung disambut sorakan para pemuda. Ruangan bergemuruh, emosi pecah, kekecewaan yang selama ini terpendam akhirnya meluap tanpa bisa dibendung. Hari itu, bukan hanya forum yang bubar tetapi juga kepercayaan yang mulai runtuh.
Namun ketegangan tidak berhenti di situ.
Sebagai bentuk perlawanan atas sikap yang dianggap mengabaikan aspirasi masyarakat, Aliansi Pemuda Desa Padasuka secara tegas menyatakan akan menggelar aksi unjuk rasa dalam waktu dekat. Aksi tersebut akan menjadi simbol perlawanan terbuka terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
Para pemuda menegaskan, langkah ini bukan sekadar ancaman, melainkan bentuk keseriusan mereka dalam mempertahankan hak ruang hidup masyarakat. Mereka siap turun ke jalan, menggalang solidaritas, bahkan memperluas gerakan jika aspirasi mereka terus diabaikan.
Aliansi Pemuda Desa Padasuka kembali menegaskan: Mereka tidak menolak pembangunan. Mereka mendukung kemajuan desa. Namun mereka menolak keras jika kemajuan itu harus dibayar dengan hilangnya satu-satunya lapangan yang menjadi denyut kehidupan masyarakat.
Kini, Padasuka berada di persimpangan.
Antara pembangunan yang dipaksakan…
atau kebijaksanaan yang mendengarkan.
Satu hal yang pasti Jika suara rakyat terus dibungkam, maka jalanan akan menjadi ruang bicara berikutnya.
