Pojokpublik.id Jakarta – Penyanyi dan publik figur Camel Petir menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus yang menimpa sahabatnya, Aurelia Moreman. Bagi Camel, peristiwa ini bukan sekadar pemberitaan, melainkan cerminan nyata bahwa masih banyak perempuan yang menyimpan luka dalam diam.
Camel menilai, buku Broken Strings yang menginspirasi Aurelia membawa pesan kuat tentang pentingnya keberanian untuk bersuara dan tidak memendam rasa sakit seorang diri.
“Diam tidak selalu berarti kuat. Kadang, diam justru membuat luka semakin dalam. Berani bersuara adalah langkah pertama untuk menyelamatkan diri,” ujar Camel, Jum’at (16/1).
Ia menegaskan bahwa kasus-kasus serupa tidak seharusnya lagi dianggap sebagai hal tabu. Banyak korban memilih bungkam karena takut dihakimi, tidak dipercaya, atau merasa sendirian. Padahal, dukungan dari lingkungan sekitar menjadi kunci penting dalam proses pemulihan.
“Pelajaran terbesar dari Broken Strings adalah bahwa rasa sakit tidak perlu ditanggung sendirian. Kita berhak mencari keadilan, berhak didengar, dan berhak untuk pulih,” tambahnya.
Camel juga berharap masyarakat dapat mulai mengubah cara pandang terhadap para korban. Alih-alih menghakimi, masyarakat diharapkan mampu merangkul dan memberikan ruang aman untuk bercerita.
“Kasus ini membuka mata kita semua bahwa kekerasan, baik emosional maupun fisik, bisa terjadi di sekitar kita. Jangan lagi bertanya ‘kenapa baru bicara sekarang’, tetapi tanyakanlah ‘apa yang bisa kita bantu hari ini’,” tegas Camel.
Melalui pernyataan ini, Camel Petir mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk tidak takut menyuarakan kebenaran, mencari pertolongan, dan saling menguatkan satu sama lain.
“Seperti senar yang putus dalam Broken Strings, hidup memang bisa retak. Namun dengan keberanian dan dukungan, kita bisa merangkainya kembali menjadi melodi yang lebih kuat,” tutup Camel. (ROHIM)













