Pakar Ungkap Arah Konflik Iran–Israel–AS, Dari Hegemoni hingga Perang Digital

Avatar of Redaksi
Redaksi
11 Apr 2026 15:22
3 menit membaca

Pojokpublik.id JAKARTA – Program Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid menggelar seminar nasional bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia? Membaca Konflik Iran–Israel–AS” pada Jumat (10/4/2026). Kegiatan ini menjadi forum diskusi intelektual yang menghadirkan tiga pakar dari berbagai perspektif untuk membedah eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian kompleks.

Hadir sebagai narasumber, KH. Fathurahman Yahya (analis geopolitik Timur Tengah/DIK-29), Didin Nasirudin (praktisi komunikasi strategis/DIK-35), dan Henry Sianipar (DIK-33) selaku produser media nasional. Diskusi dipandu Mochammad Husni (DIK-31), Vice President Corporate Communication PT Astra Agro Lestari Tbk.

Kegiatan yang berlangsung di Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Sahid Sudirman Residence Lt. 5, Jl. Jend. Sudirman No. 86, Jakarta Pusat, diawali sambutan Kaprodi Program Doktor Ilmu Komunikasi, Dr. Yoga Santoso. Ia menegaskan bahwa konflik Iran–Israel–AS tidak bisa lagi dilihat sebagai sekadar benturan militer biasa, melainkan krisis multidimensi.

“Dunia saat ini tidak hanya berhadapan dengan potensi eskalasi perang fisik, tetapi juga perang persepsi, framing, dan perebutan makna di tingkat global. Konflik ini harus dibaca secara utuh sebagai peristiwa global yang berdampak pada ekonomi, diplomasi, media, hingga opini publik internasional,” ujar Yoga.

Menurutnya, forum ini penting di tengah derasnya arus informasi, propaganda, dan polarisasi opini. Kampus, kata dia, harus hadir sebagai ruang intelektual yang memberi perspektif jernih, bukan sekadar mengikuti arus informasi.

Diskusi membedah konflik dari tiga sudut utama, yakni akar sejarah dan geopolitik, arah permainan strategis serta kemungkinan akhir konflik (endgame), serta perang narasi di era digital yang melibatkan media, kecerdasan buatan (AI), dan disinformasi.

Dalam sesi pertama bertema Akar Konflik dan Perebutan Hegemoni, KH. Fathurahman Yahya menjelaskan bahwa konflik saat ini merupakan bagian dari dinamika kebijakan luar negeri Amerika Serikat pasca-Perang Dingin.

Ia menyebut, penyebab utama konflik dipicu oleh warisan kolonialisme seperti Perjanjian Sykes-Picot, rivalitas sektarian Sunni–Syiah, serta perebutan kontrol atas jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz. Selain itu, strategi Amerika Serikat dan Israel dinilai bertujuan mempertahankan hegemoni Barat dengan menahan kebangkitan Iran sebagai kekuatan regional.

Sementara itu, Didin Nasirudin mengulas keseimbangan kekuatan militer dan kemungkinan skenario ke depan. Menurutnya, Amerika Serikat dan Israel unggul dalam teknologi serangan presisi dan kemampuan dekapitasi kepemimpinan. Namun, Iran memiliki keunggulan dalam strategi perang asimetris serta jaringan proksi yang luas.

Didin memprediksi akan terjadi kesepakatan damai terbatas pada pertengahan 2026 setelah fase konfrontasi terbatas. Kesepakatan tersebut, kata dia, kemungkinan mencakup penghentian program nuklir Iran dan normalisasi hubungan regional, meski tanpa kompensasi finansial bagi Iran.

Diskusi juga menyoroti dampak konflik terhadap Indonesia, mulai dari potensi lonjakan harga BBM, tekanan terhadap APBN akibat subsidi energi, hingga terganggunya rantai logistik perdagangan global.

Indonesia disarankan mengambil peran sebagai mediator melalui pendekatan bridging diplomacy, sekaligus memperkuat kemandirian di sektor pertahanan, pangan, dan energi agar tidak rentan terhadap tekanan eksternal.

Pada sesi terakhir, Henry Sianipar menyoroti perubahan wajah peperangan modern. Ia menegaskan bahwa perang kini tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di ruang digital melalui perang narasi.

Menurutnya, penggunaan teknologi seperti AI generatif, deepfake, hingga propaganda visual menjadi senjata baru untuk membentuk opini publik global.

Henry menyebut kondisi ini sebagai “kekacauan epistemologis”, di mana masyarakat semakin sulit membedakan antara realitas dan kepalsuan karena peran algoritma yang menentukan arus informasi.

“Kita bukan menuju perang besar, melainkan sudah berada dalam era ‘perang permanen multi-dimensi’,” tegasnya.

Melalui forum ini, Universitas Sahid menegaskan pentingnya kajian komunikasi dalam memahami krisis global. Di era digital, perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di layar, platform, algoritma, dan ruang opini publik.

 

(Jiwa)

Hari Jadi Pandeglang
x
x