Keterangan Poto: Kaesang Pangarep bergabung bersama partai PSI.Pojokpublik.id Jakarta – Langkah mantan kader Partai Nasdem, Ahmad Ali, yang memutuskan pindah haluan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), justru dinilai membawa dampak positif bagi partai besutan Surya Paloh.
Direktur Political Public and Policy Studies (P3S), Jerry Massie, menilai kepergian Ahmad Ali justru membuat suasana di internal Nasdem menjadi lebih tenang, tertib, dan jauh dari kekacauan.
“Sebenarnya ada positifnya bagi Nasdem, justru makin adem dan tenang tanpa seorang penjilat dan kader yang gagal di Pilgub Sulawesi Tengah 2024 lalu. Kalau dia masih bertahan, bisa saja dia menjadi duri dalam daging yang bikin partai ini chaos atau berantakan,” ujar Jerry Massie dengan tegas.
Dugaan Cari “Safety” Kasus TPPU
Lebih jauh, Jerry mempertanyakan motif di balik kepindahan Ahmad Ali. Ia menyinggung soal masa lalu tokoh tersebut yang pernah menjadi sorotan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
“Bisa saja dia hengkang dan cari ‘safety’ dengan bergabung ke partai yang dianggap dekat dengan kekuasaan saat ini, agar kasus yang dulu sempat digeledah KPK itu dianggap aman dan tidak disentuh,” ungkap Jerry.
Jerry bahkan tak segan menyebut Ahmad Ali sebagai pengkhianat dan kutu loncat politik. Baginya, sosok tersebut telah dibesarkan oleh partai lama, namun justru berbalik arah demi kepentingan pribadi.
“Saya pikir Ahmad Ali tipikal penghianat lantaran sudah dibesarkan partai, tapi akhirnya jadi bajing loncat dan kutu loncat politik yang tidak punya prinsip,” tegasnya.
PSI Makin Terpuruk, Cuma Raih 1,2 Persen
Kedatangan Ahmad Ali bersama Bestari Barus ke PSI dinilai tidak membawa angin segar. Justru partai yang diketuai Kaesang Pangarep ini terlihat makin terpuruk di elektabilitas.
Berdasarkan data survei Poltracking, elektabilitas PSI hanya bertengger di angka 1,2 persen, masih sangat jauh dari ambang batas parlemen sebesar 4 persen.
“Kedua mantan kader Nasdem ini kelihatan sangat lemah dalam politik, hanya mulut yang gede tapi tak punya daya tarik elektoral. Mereka tak mampu mendongkrak suara partai anaknya Jokowi,” ucap Jerry.
“Raih 3 persen saja tak mampu, apalagi mengejar angka 4 persen untuk lolos parlemen. Jadi memang partai ini sudah tak laku lagi di blantika politik masyarakat,” pungkasnya.
