Jalan RusakPojokpublik.id Tangerang – Besarnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tangerang Tahun 2026 yang mencapai Rp8,62 triliun menuai sorotan tajam dari masyarakat, khususnya terkait pemerataan pembangunan infrastruktur.
Kritik keras disampaikan oleh Syafrudin, SM, mantan Ketua PAC Partai Gelora Desa Cikasungka, Kecamatan Solear. Ia menilai pemerintah daerah, termasuk Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA), gagal dalam mewujudkan pembangunan yang merata.
“Wilayah kami seolah menjadi ‘anak tiri’ dalam pembangunan. Selama 28 tahun, kami hanya diminta bersabar, padahal yang kami tuntut sederhana: betonisasi jalan yang rusak dan berlubang,” ujar Syafrudin dengan nada kecewa.
Menurutnya, Bukit Cikasungka bukan sekadar wilayah pinggiran, melainkan cerminan daerah yang terpinggirkan secara kebijakan. Ia menilai, konsep pemerataan pembangunan yang kerap disampaikan pemerintah hanya sebatas wacana.
“Jika berbicara pemerataan, Bukit Cikasungka adalah bukti bahwa teori tersebut tidak benar-benar hadir dalam implementasi APBD,” tegasnya.
Syafrudin juga menyoroti ketimpangan antara kewajiban warga dan perhatian pemerintah. Ia menyebut masyarakat tetap diminta taat membayar pajak dan berpartisipasi dalam pemilu, namun aspirasi mereka kerap diabaikan.
“Suara kami dicari saat dibutuhkan, tetapi ketika jalan rusak dan penuh kubangan, seolah tidak ada yang peduli. Wakil rakyat seperti kehilangan arah menuju wilayah kami,” sindirnya.
Kritik tersebut turut diarahkan kepada Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, jajaran DBMSDA, serta anggota DPRD Kabupaten Tangerang. Ia menilai, tanpa langkah konkret, mereka berpotensi menjadi bagian dari pembiaran masalah.
“Apa fungsi DPRD jika tidak mampu memperjuangkan satu akses jalan strategis? Jangan sampai hanya aktif saat reses, namun tidak menghadirkan solusi nyata,” ujarnya.
Ia juga mengaku kecewa dengan berbagai janji pembangunan yang dinilai tidak terealisasi. “Kami sudah lelah dengan rencana dan pendataan. Yang kami butuhkan adalah aksi nyata, bukan sekadar dokumentasi,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, Syafrudin menantang komitmen pemerintah terhadap slogan “Tangerang Gemilang”.
“Jika benar ingin mewujudkan Tangerang Gemilang, mengapa Bukit Cikasungka masih dikelilingi jalan rusak? Kami tidak butuh pidato, kami butuh realisasi,” tegasnya.
Ia menegaskan, kondisi jalan di lingkungan RW 09 Bukit Cikasungka sudah rusak parah dan membutuhkan perhatian segera.
“Jalan kami rusak, tetapi akal sehat kami tidak. Jika pemerintah tidak segera bertindak, kami akan menyampaikan aspirasi secara langsung tanpa basa-basi,” pungkasnya.
(Sitinurjanah)
