
Pojokpublik.id JAKARTA – Budayawan Kidung Tirto Suryo Kusumo mengingatkan para tokoh, pemimpin dan pelayan rakyat untuk selalu mawas diri atau introspeksi atas niat serta segala perilaku agar terhindar dari karma buruk yang merugikan diri sendiri dan masyarakat.
Hal itu disampaikan Kidung Tirto menyikapi fenomena alam yang semakin ekstrem dan kondisi geopolitik global yang penuh ketidakpastian. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak negatif terhadap stabilitas ekonomi, politik dan sosial di dalam negeri sehingga menghambat upaya pemerintah mensejahterakan rakyat.
“Sikap mawas diri harus menjadi alarm bagi para tokoh, pemimpin dan pelayan rakyat, baik yang duduk di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Mereka harus mampu melihat, menganalisa, serta mengoreksi diri sendiri secara jujur mengenai pikiran, perasaan, dan perbuatan yang akan dilakukan. Sikap mawas diri akan melahirkan kebijaksanaan dalam memimpin atau menjalankan tugas,” ujar Kidung Tirto saat dihubungi dari petilasan di kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat, Minggu (2/8/2026).
Menurut spiritualis asal Gunung Lawu ini, seseorang yang tidak mau mawas diri atau sombong akan menerima karma atau respon dari lingkungannya, baik secara spontan ataupun di masa mendatang.
‘Karma adalah hukum sebab-akibat universal. Artinya, setiap pikiran, ucapan, dan tindakan akan membawa konsekuensi atau energi yang pasti kembali kepada pelaku, baik dalam kehidupan sekarang maupun masa depan,” jelas Kidung Tirto.
Dia mengatakan, setiap perbuatan pasti diawali dari niat atau motif. Niat memegang peranan paling besar dalam menentukan jenis energi karma yang tercipta. Niat buruk akan melahirkan energi buruk, begitu juga sebaliknya. “Apa yang Anda tanam, itulah yang akan Anda tuai. Kebaikan mendatangkan energi baik, keburukan memicu penderitaan,” kata Kidung Tirto.
Dia mengatakan, secara awam. karma sering kali disamakan dengan hukuman dari Tuhan. Padahal, karma adalah mekanisme kesadaran dan keseimbangan alam semesta yang pasti akan terjadi.
“Karma adalah respons alam atau lingkungan atas niat dan perilaku seseorang. Artinya, karma pasti berlaku secara alami karena alam semesta selalu menjaga mekanisme keseimbangan. Karma pasti menimpa manusia yang tidak percaya Tuhan atau atheis sekalipun,” tegas Kidung Tirto.
Sebagai contoh, niat mencuri atau korupsi akan memicu energi negatif, seperti berbohong, memanipulasi dan sebagainya. Ketika korupsi dilakukan, energi negatifnya makin kuat misalnya melalui gaya hidup hedon dan sombong sehingga lingkungan akan merespons ketika menyadari adanya ketidakadilan.
Jaga Persatuan
Kidung Tirto juga mengingatkan seluruh anak bangsa untuk mempertebal persatuan dan saling welas asih di tengah kondisi global yang penuh tantangan dan ketidakpastian saat ini.
“Gejolak global bisa mempengaruhi situasi di dalam negeri. Karena itu, bangsa Indonesia harus kompak, jangan hanyut dalam gelombang krisis global dan termakan isu atau hoax yang memecah belah bangsa,” ucapnya.
Menurut Kidung Tirto, budaya nusantara telah mengajarkan filosofi persatuan yang tercermin dari nilai-nilai luhur dalam Pancasila.
“Dalam filosofi Jawa juga diajarkan konsep persatuan yang sangat mendalam, yakni golong gilig, rukun agawe sentosa crah agawe bubrah, manunggal kawula gusti, gotong royong, dan hamemayu hayuning bawana,” ungkapnya.
Kidung Tirto menjelaskan, golong gilig adalah lambang tekad yang bulat (golong) dan bersatu padu secara kokoh (gilog) untuk mencapai satu tujuan bersama tanpa terpecah belah.
Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah, yakni prinsip bahwa hidup rukun dan berdampingan akan membawa kekuatan serta kesejahteraan, sedangkan pertengkaran atau perpecahan akan menghancurkan tatanan.
Adapun manunggaling kawula gusti adalah konsep penyatuan vertikal antara manusia dan Sang Pencipta yang juga mencerminkan keselarasan horisontal antara rakyat dan pemimpin dalam hubungan yang harmonis.
Selanjutnya gotong royong, yakni semangat kerja bersama dan saling membantu tanpa pamrih yang menjadi fondasi tindakan nyata persatuan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun hamemayu hayuning bawana berarti kewajiban manusia untuk memperindah, menjaga, dan merawat keselamatan serta kedamaian dunia melalui sikap selaras dengan alam dan sesama.
“Persatuan adalah modal sekaligus kekuatan Indonesia sebagai bangsa majemuk. Jangan terpengaruh isu negatif yang memecah belah persatuan dan berpotensi mengganggu kamtibmas,” cetus Kidung Tirto.
(Dhana surya)
