SMSI Kukuhkan Pokja Newsroom Jaga Desa, Dorong Media Siber Perkuat Ekonomi dan Pembangunan Desa

Avatar of Dhana Surya
Dhana Surya
27 Agu 2026 23:15
4 menit membaca

 

Pojokpublik.id. JAKARTA — Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) mengukuhkan Kelompok Kerja (Pokja) Newsroom Jaga Desa dari lima provinsi dalam rangka memperkuat peran media siber dalam mengawal pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa.

Pengukuhan berlangsung di Hall Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026). Lima provinsi yang masuk dalam pengukuhan tersebut yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, dan Sumatera Selatan.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 100 peserta dari masyarakat umum dan undangan itu dirangkaikan dengan Dialog Nasional bertajuk “Katalisator Ekonomi Desa: Integrasi Inisiatif Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dengan Ekosistem Start Up Media.”

Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Ketua Umum SMSI Pusat Firdaus, Hashim Djojohadikusumo, Direktur Utama LPP TVRI Hendrasmo, Ketua Umum Formas Yohanes Handoyo Budhi Sejati, Mayjen TNI (Purn) Joko Warsito, Ketua Dewan Pers Prof. Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Penasehat SMSI Jawa Timur Ahmad Riyadh U.B., Ph.D., serta Bendahara Umum SMSI RPS. Aji Waskita.

Dalam sambutannya, Ketua Umum SMSI Pusat Firdaus menekankan pentingnya posisi strategis media siber dalam membangun konektivitas informasi secara nasional.

Menurut Firdaus, jaringan media siber memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi mengenai kondisi Indonesia sekaligus mengangkat berbagai isu kerakyatan dan pembangunan agar memperoleh perhatian lebih luas, termasuk di tingkat global.

Ia juga mendorong penguatan sinergi antarpemangku kepentingan sehingga media tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi turut berkontribusi dalam mengawal berbagai agenda pembangunan dan kepentingan masyarakat.

Sementara itu, Hashim Djojohadikusumo menyoroti perkembangan media sosial dan fenomena aksi demonstrasi yang berlangsung di depan DPR.

Ia menyampaikan pandangan bahwa sebagian peserta aksi dapat terdorong oleh motif finansial yang diperoleh melalui aktivitas live streaming di platform TikTok, bukan semata-mata karena faktor ideologi.

Hashim juga menyoroti persoalan manipulasi atau pembesaran jumlah massa dalam pemberitaan maupun percakapan publik. Menurutnya, fenomena tersebut menjadi salah satu tantangan dalam membangun ekosistem informasi yang sehat.

Ia menyatakan berencana berdialog langsung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai universitas untuk membahas persoalan bangsa, termasuk upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Hashim juga menyampaikan apresiasinya kepada SMSI atas undangan yang diberikan tanpa meminta dukungan anggaran.

Ekonomi Desa dan Kepastian Hukum

Dialog nasional kemudian membahas hubungan antara pembangunan ekonomi desa, investasi, serta perkembangan ekosistem media digital.

Ketua Dewan Penasehat SMSI Jawa Timur Ahmad Riyadh U.B., Ph.D., menekankan pentingnya aspek hukum dalam pengelolaan desa maupun investasi.

Menurutnya, terdapat sejumlah prinsip yang perlu diperhatikan, yakni kepastian hukum bagi investor, keterbukaan informasi dan tata kelola yang transparan, serta keadilan berupa manfaat ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ia menilai pembangunan ekonomi desa tidak dapat dilepaskan dari tata kelola yang baik dan kepastian hukum agar investasi yang masuk memberikan manfaat berkelanjutan.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof. Dr. Taufiqurokhman, SH, A.Ks, S.Sos, M.Si., menyoroti peran media siber dalam mendukung pemberdayaan masyarakat desa.

Menurutnya, inisiatif seperti Newsroom Jaga Desa dapat menjadi bagian dari upaya menyebarluaskan informasi mengenai potensi desa sekaligus membangun citra positif Indonesia.

Ia juga menekankan pentingnya pemberdayaan ekonomi pedesaan, khususnya sektor pertanian dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sehingga masyarakat desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi dapat menjadi pelaku utama perekonomian.

Upaya tersebut, menurutnya, membutuhkan sinergi berbagai pihak, termasuk sektor perbankan dan tokoh masyarakat. Dalam konteks investasi, ia juga menyampaikan gagasan mengenai pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) sebagai salah satu instrumen untuk menarik investasi.

Media Siber di Tengah Disrupsi Digital

Pengukuhan Pokja Newsroom Jaga Desa berlangsung di tengah perubahan besar dalam ekosistem media akibat perkembangan media sosial dan platform digital.

Disrupsi tersebut menghadirkan tantangan bagi media konvensional maupun media siber, mulai dari persaingan mendapatkan perhatian publik, kecepatan penyebaran informasi, hingga munculnya berbagai narasi yang belum tentu terverifikasi.

Dalam konteks tersebut, konsolidasi media siber dinilai menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kapasitas jurnalistik sekaligus meningkatkan kontribusi media dalam mengawal pembangunan.

Penguatan Newsroom Jaga Desa juga menempatkan isu desa sebagai salah satu ruang penting pemberitaan. Desa tidak hanya dipandang sebagai objek pemberitaan, tetapi sebagai basis ekonomi dan sosial yang memiliki potensi besar dalam pembangunan nasional.

Melalui penguatan jaringan media, informasi mengenai potensi ekonomi, pertanian, UMKM, investasi, serta berbagai persoalan masyarakat desa diharapkan dapat memperoleh ruang pemberitaan yang lebih luas.

Pada saat yang sama, penguatan media siber perlu berjalan beriringan dengan prinsip jurnalistik, verifikasi informasi, keterbukaan, serta independensi pers agar pembangunan ekosistem informasi tetap dipercaya publik.

Pengukuhan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat jaringan media siber di tingkat daerah sekaligus membuka ruang kolaborasi antara pers, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat dalam mengawal pembangunan ekonomi desa.(Jiwa)

Hari Jadi Pandeglang