
Pojokpublik.id.JOMBANG — Mengapa seseorang bersedia menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mengurus organisasi sebesar Nahdlatul Ulama (NU), sementara pekerjaan dan keluarga sendiri sudah menyita banyak energi? Pertanyaan sederhana itu justru membuka percakapan tentang satu kata yang lekat dengan tradisi pesantren dan kehidupan warga Nahdlatul Ulama, yakni barokah.
Bagi sebagian warga NU, menjadi pengurus bukan semata-mata soal jabatan. Ada keyakinan bahwa berada di lingkungan NU merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus menghadirkan kebaikan bagi orang lain, jombang 26 agustus 2026.
Pandangan tersebut pernah disampaikan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah sekaligus salah satu kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35.
“NU ini adalah organisasi yang baik. Justru kitalah yang ingin menjadi baik melalui NU,” kata Gus Rozin.
Pernyataan tersebut menempatkan NU bukan sekadar sebagai organisasi yang harus dikelola, tetapi juga sebagai ruang pengabdian sekaligus proses pembentukan diri.
Dari Mencari Barokah hingga Mengurus Jamaah
Dalam tradisi pesantren, barokah sering dipahami sebagai ziyādatul khair, yakni bertambahnya kebaikan. Makna tersebut kemudian menjadi penting ketika seseorang memutuskan mengambil tanggung jawab dalam kepengurusan NU.
Seorang Ketua Ansor di tingkat cabang, misalnya, menggambarkan keputusannya menjadi pengurus sebagai sebuah “panggilan jiwa”. Ia tumbuh dalam lingkungan NU dan memperoleh pendidikan pesantren. Karena itu, ketika mendapat kesempatan untuk mengambil bagian dalam kepengurusan, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai yang telah diterimanya.
Bagi dia, menjadi bagian dari NU berarti berusaha menjaga diri tetap berada dalam lingkungan yang baik: dekat dengan para kiai, dekat dengan tradisi mengaji, dan dekat dengan ilmu.
Dari titik itu, makna kebaikan kemudian berkembang. Mengurus NU tidak lagi hanya berbicara tentang bagaimana seseorang memperbaiki dirinya sendiri, tetapi juga bagaimana kebaikan tersebut dapat dirasakan jamaah dan masyarakat.
Seorang pengurus NU, misalnya, tidak cukup hanya memikirkan agenda organisasinya sendiri. Ia juga dituntut menggerakkan anggota, mengembangkan sumber daya, serta mencari jalan agar organisasi memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
NU sebagai Jalan Pengabdian
Cara pandang tersebut menjadi penting di tengah pembicaraan mengenai kepemimpinan NU menjelang Muktamar ke-35.
Gus Rozin melihat NU sebagai jam’iyah yang dibangun dari jutaan jamaah. Karena itu, perbaikan organisasi pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari perbaikan orang-orang yang berada di dalamnya.
Jamaah yang semakin baik akan menjadi modal bagi jam’iyah yang semakin kuat. Kerangka berpikir ini pula yang membuat Gus Rozin menempatkan penguatan jamaah dan jam’iyah sebagai bagian penting dari agenda kepemimpinan NU.
Organisasi, dalam pandangan tersebut, tidak akan kuat hanya karena struktur dan program di tingkat pusat. Kekuatan NU juga bertumpu pada warga yang bersedia mengambil bagian dalam kerja-kerja pengabdian.
Dengan demikian, menjadi pengurus NU bukan semata-mata memperoleh posisi dalam struktur. Kepengurusan dipahami sebagai kesempatan untuk memperluas kebaikan, dari diri sendiri kepada jamaah, kemudian kepada masyarakat.
Pengalaman Panjang di Berbagai Jenjang
Gagasan tersebut juga tidak berdiri di ruang kosong. Gus Rozin sendiri telah melalui perjalanan panjang dalam berbagai jenjang organisasi NU.
Ia pernah menjadi Pengurus Pusat IPNU periode 1998-2001, Pengurus Pusat GP Ansor 2000-2004, Wakil Ketua LP Ma’arif PBNU 2010-2013, Ketua RMI NU Jawa Tengah 2013-2015, Ketua RMI PBNU 2015-2021, Mustasyar PCNU Kabupaten Pati 2019-2024, serta Katib Syuriah PBNU 2021-2023.
Sejak 2024, ia dipercaya sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah untuk masa khidmah 2024-2029.
Lintasan tersebut mempertemukan Gus Rozin dengan berbagai wajah NU, mulai dari kader muda, pesantren, lembaga pendidikan, pengurus cabang, pengurus wilayah, hingga struktur PBNU.
Pengalaman panjang itu pula yang membuat gagasan tentang khidmah dan proses menjadi baik bersama NU tidak sekadar menjadi narasi menjelang Muktamar.
Menjadi Baik, Kemudian Membuat NU Lebih Baik
Dalam perspektif ini, pertanyaan “mengapa seseorang mau mengurus NU?” memiliki jawaban yang berbeda dari logika organisasi pada umumnya.
Bukan karena jabatan selalu menawarkan keuntungan material. Bukan pula karena menjadi pengurus berarti terbebas dari persoalan organisasi.
Sebaliknya, mengurus NU membutuhkan kesediaan untuk memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan perhatian kepada jamaah. Di situlah konsep khidmah menemukan maknanya.
Seseorang masuk dalam kepengurusan NU untuk berusaha menjadi lebih baik, sementara pada saat yang sama berusaha membuat lingkungan di sekitarnya menjadi lebih baik.
Dari individu lahir jamaah. Dari jamaah terbentuk jam’iyah. Dan dari jam’iyah yang kuat diharapkan lahir manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Gagasan inilah yang ditawarkan Gus Rozin ketika berbicara tentang masa depan NU. Membangun NU pada akhirnya bukan hanya pekerjaan memperbaiki organisasi, tetapi juga pekerjaan memperbaiki orang-orang yang menghidupinya.
Menjelang Muktamar ke-35 NU pada 27-31 Agustus 2026, gagasan tersebut menjadi salah satu perspektif dalam melihat kepemimpinan NU: bahwa memimpin organisasi tidak semata-mata tentang mengelola struktur dan program, tetapi juga tentang kesediaan untuk terus belajar, berkhidmah, dan menjadi baik bersama NU.
