Pojokpublik.id.Serang 23 Oktober 2026-Perkenalkan, saya Idan Wildan, lulusan Fakultas Teknik Universitas Banten Jaya tahun 2026. Hari ini, saya berdiri di persimpangan jalan: meninggalkan satu fase pendidikan formal yang telah saya tempuh dengan berbagai pengalaman, perjuangan, dan proses pembelajaran, untuk memasuki fase baru yang saya sebut sebagai Universitas Kehidupan yang Sesungguhnya.
Bagi saya, kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan intelektual, melainkan awal dari ujian yang lebih nyata. Jika selama menjadi mahasiswa saya belajar melalui teori, diskusi, penelitian, dan aktivitas organisasi, kini saya harus menguji seluruh pengetahuan dan pengalaman tersebut di tengah kehidupan yang penuh dinamika, ketidakpastian, serta tantangan yang tidak selalu memiliki jawaban pasti.
Wisuda memang menandai keberhasilan menyelesaikan pendidikan formal. Namun, di balik toga dan ijazah, terdapat tanggung jawab baru yang menanti. Sebab, kehidupan setelah kampus tidak lagi sekadar menuntut kemampuan menjawab pertanyaan dalam ujian, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan, menghadapi persoalan, dan mempertanggungjawabkan setiap tindakan.
*Kampus sebagai Ruang Pembentukan Nalar dan Karakter*
Selama menjadi mahasiswa di Universitas Banten Jaya, saya tidak hanya belajar di dalam ruang kelas. Sebagai mahasiswa Fakultas Teknik sekaligus aktivis, saya memperoleh pengalaman yang membentuk cara pandang saya terhadap ilmu pengetahuan, organisasi, dan realitas sosial.
Di ruang akademik, saya belajar berpikir secara sistematis, menganalisis persoalan, serta memahami bahwa setiap masalah membutuhkan pendekatan yang rasional dan terukur. Sementara itu, melalui aktivitas organisasi dan gerakan mahasiswa, saya belajar tentang kepemimpinan, tanggung jawab, keberanian menyampaikan pendapat, serta pentingnya menghargai perbedaan.
Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa menjadi mahasiswa bukan semata-mata tentang memperoleh nilai akademik atau mengejar gelar sarjana. Lebih dari itu, menjadi mahasiswa adalah proses membentuk manusia yang memiliki kemampuan intelektual, kepekaan sosial, dan keberanian untuk terlibat dalam menjawab persoalan di sekitarnya.
Bagi saya, kampus merupakan laboratorium sosial. Di dalamnya, gagasan diuji melalui diskusi, pemikiran dikembangkan melalui perbedaan pandangan, dan karakter dibentuk melalui berbagai pengalaman.
*Dari Lorong Akademik Menuju Lorong Realitas*
Setelah menyelesaikan pendidikan formal, saya mulai memahami bahwa dunia kehidupan memiliki kompleksitas yang berbeda dengan dunia akademik. Di kampus, persoalan dapat dianalisis melalui teori dan pendekatan ilmiah. Di tengah masyarakat, persoalan sering kali melibatkan banyak kepentingan, keterbatasan sumber daya, kondisi sosial, dan konsekuensi yang tidak sederhana.
Sebagai lulusan Fakultas Teknik, saya ingin membawa cara berpikir sistematis yang telah saya pelajari untuk menghadapi berbagai persoalan. Saya percaya bahwa ilmu pengetahuan seharusnya tidak berhenti sebagai kumpulan konsep di dalam buku, tetapi harus menjadi instrumen untuk menghasilkan solusi yang bermanfaat.
Dalam perspektif pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning), kelulusan bukanlah akhir dari proses pendidikan. Manusia harus terus belajar melalui pengalaman, interaksi sosial, perkembangan teknologi, dan perubahan zaman.
*Dari Lorong Diskusi Menuju Lorong Aksi*
Sebagai mahasiswa yang pernah aktif dalam gerakan mahasiswa, saya tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan diskusi, kritik, dan pertukaran gagasan. Saya belajar bahwa tradisi berpikir kritis merupakan bagian penting dari kehidupan intelektual.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya semakin memahami bahwa gagasan yang baik membutuhkan tindakan nyata. Perubahan tidak cukup hanya dibicarakan, persoalan tidak cukup hanya dikritik, dan idealisme tidak seharusnya berhenti sebagai slogan.
Menurut saya, aktivisme bukan sekadar keberanian berbicara di hadapan banyak orang. Aktivisme juga merupakan kesediaan untuk terlibat, bekerja, dan mengambil tanggung jawab dalam proses perubahan. Kritik perlu disertai solusi, keberanian perlu dibarengi kebijaksanaan.
*Menjaga Idealisme di Tengah Realitas*
Salah satu tantangan terbesar setelah kelulusan adalah mempertemukan idealisme dengan kenyataan. Pada titik inilah idealisme diuji. Apakah nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan akan tetap dipertahankan, atau perlahan ditinggalkan ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi?
Saya tidak ingin memandang kehidupan sebagai pertentangan antara idealisme dan realitas. Keduanya justru harus dipertemukan melalui sikap yang bijaksana. Idealisme memberikan arah, sementara realitas mengajarkan cara menentukan langkah.
*Penutup: Kehidupan Baru, Pembelajaran Tanpa Waktu*
Bagi saya, Universitas Banten Jaya akan selalu menjadi bagian penting dari perjalanan hidup. Di sanalah saya memperoleh bekal akademik, pengalaman organisasi, persahabatan, serta pelajaran tentang perjuangan dan kedewasaan.
Kini, saya tidak lagi hanya dituntut untuk memahami teori, menyelesaikan tugas, atau mempertahankan argumentasi di ruang diskusi. Saya harus belajar menerjemahkan pengetahuan menjadi kompetensi, gagasan menjadi tindakan, dan pengalaman menjadi kebijaksanaan.
Saya, Idan Wildan, lulusan Fakultas Teknik Universitas Banten Jaya tahun 2026, kini melangkah menuju universitas kehidupan dengan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan harus terus dikembangkan, idealisme harus dijaga, dan setiap kemampuan yang dimiliki sepatutnya diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Pada akhirnya, wisuda bukanlah tanda bahwa perjalanan belajar telah berakhir. Wisuda adalah penanda bahwa satu tahap telah selesai dan tahap berikutnya dimulai. Sebab, kehidupan tidak pernah berhenti memberikan pelajaran, dan manusia tidak seharusnya berhenti menjadi pembelajar.
