
POJOKPUBLIK.CO
(SERANG) – Di tengah kesibukannya memimpin Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, Dr. H. Budi S. Januardi, S.Pt., M.M., berhasil meraih gelar Doktor (S3) Ilmu Pertanian dengan konsentrasi Agribisnis dari Program Pascasarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).
Gelar tersebut diraih dalam waktu 2 tahun 10 bulan 12 hari dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98 dengan predikat Cum Laude. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa dedikasi sebagai birokrat dapat berjalan beriringan dengan semangat menuntut ilmu.
Dr. Budi resmi dikukuhkan sebagai Doktor setelah berhasil mempertahankan Disertasinya dalam Sidang Promosi Doktor yang berlangsung di Ruang Multimedia Lantai 2 Gedung Kartiwa Suriasaputra, Kampus Untirta, Serang, Kamis (16/7/2026).
Sidang dipimpin oleh Ketua Sidang Prof. Dr. H. Aan Asphianto, S.H., S.Si., M.H., dengan Sekretaris Sidang Prof. Dr. Ir. Kartina A.M., M.P. Tim promotor terdiri atas Dr. Aliudin, S.P., M.P. sebagai Promotor dan Prof. Dr. Mirajiani, S.P., M.Si. sebagai Co-promotor. Penguji Eksternal adalah Prof. Dr. Achmad Firman, S.Pt., M.Si. dari Universitas Padjadjaran, sedangkan Penguji Utama yakni Dr. Dian Anggraeni, S.P., M.P. dan Dr. Ririn Irnawati, S.Pi., M.Si.
Sidang juga dihadiri sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Pandeglang, Pemerintah Kabupaten Tangerang, Pemerintah Provinsi Banten, Akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Banten, serta Mahasiswa dari sejumlah kampus di Banten dan Jakarta.
Dalam sidang tersebut, Dr. Budi mempresentasikan disertasi berjudul “Pengembangan Budidaya Ikan Nila Merah untuk Stabilitas Produksi melalui Proyeksi Penggunaan Faktor Produksi di Kabupaten Pandeglang.”
Disertasi tersebut dinilai oleh panitia Disertasi memiliki tingkat orisinalitas yang tinggi, ketajaman analisis, serta relevansi yang kuat terhadap pengembangan sektor perikanan dan perumusan kebijakan publik.
Penelitian Dr. Budi mengangkat paradoks yang terjadi di Kabupaten Pandeglang. Berdasarkan data tahun 2024, Kabupaten Pandeglang merupakan sentra produksi Ikan Nila terbesar di Provinsi Banten dengan kontribusi mencapai 75,42 % dari total produksi Nila provinsi. Namun, di balik capaian tersebut, para pembudidaya ikan masih menghadapi berbagai persoalan mendasar.
“Karakteristik akuakultur di pedesaan masih didominasi sistem ekstensif skala kecil dengan tingkat adopsi teknologi yang rendah serta akses pemasaran yang terbatas,” ujar Dr. Budi saat memaparkan hasil penelitiannya.
Ia menjelaskan, tingginya harga pakan pabrikan, keterbatasan modal, serta lemahnya posisi tawar pembudidaya menyebabkan mereka hanya menjadi price taker (penerima harga) di pasar. Kondisi tersebut turut memengaruhi stabilitas pasokan sehingga kebutuhan Ikan Nila di Pandeglang pada waktu tertentu masih harus dipenuhi dari daerah lain.
Temuan penelitian tersebut juga mendapat pengakuan di tingkat internasional. Sebelum mengikuti sidang promosi Doktor, Dr. Budi telah mempublikasikan hasil penelitiannya pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus Q3, AACL Bioflux (Rumania), yang mengulas efisiensi produksi dan fenomena managerial inertia, yakni resistensi terhadap adopsi teknologi dan inovasi. Selain itu, hasil penelitiannya juga dipresentasikan dalam Proceeding of Food Security Symposium 2025 di hadapan para akademisi dan pakar di Bidang Pangan serta Kemaritiman.
Melalui Disertasinya, Dr. Budi menawarkan sejumlah rekomendasi strategis untuk pengembangan budidaya Ikan Nila di Kabupaten Pandeglang agar berkelanjutan.
Pertama, mendorong regenerasi pembudidaya muda melalui peningkatan intensitas pelatihan agar lebih adaptif terhadap teknologi dan inovasi.
Kedua, mengembangkan sistem Low External Input Sustainable Aquaculture (LEISA) berbasis bahan baku lokal dan Ekonomi Sirkular dengan memanfaatkan limbah organik pertanian maupun perikanan sebagai bahan baku pakan. Menurutnya, strategi tersebut mampu menekan biaya produksi, mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial, meningkatkan efisiensi usaha, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Ketiga, membangun kemitraan Quadruple Helix (sinergi 4 stakeholder) yaitu antara pembudidaya, pemerintah, akademisi dan sektor swasta untuk memperluas akses permodalan, pendampingan teknologi, serta memperkuat kepastian pasar.
Keberhasilan meraih gelar Doktor melengkapi perjalanan panjang Dr. Budi di dunia birokrasi. Sebelum menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, ia pernah menjadi Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Perikanan serta sebagai Staf Ahli Bupati Bidang Perekonomian, Keuangan, dan Pembangunan.
Semangat kepemimpinannya telah terlihat sejak masa sekolah dan kuliah, ketika dipercaya menjadi Ketua OSIS baik di SMP maupun SMA, pengurus Senat Mahasiswa juga pernah menjadi anggota Dewan Riset Daerah (DRD) Kabupaten Pandeglang periode 2012–2015 dan saat ini menjadi anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kabupaten Pandeglang.
Komitmennya dalam meningkatkan kapasitas diri juga dibuktikan melalui berbagai pendidikan dan pelatihan baik di luar negeri maupun dalam negeri, diantaranya pernah mengikuti Short Course District and Provincial Planning di University of Canberra serta Melbourne, dan Sydney, Australia bekerja sama dengan AusAID pada 2004, Short Course Water Management di Waternet Amsterdam, Belanda, pada 2013. Ia juga merupakan alumni Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia tahun 2020.
Keberhasilan meraih gelar Doktor dengan predikat Cum Laude menjadi bukti bahwa pengabdian di birokrasi dapat berjalan seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Di tengah padatnya tanggung jawab sebagai pejabat publik, Dr. Budi S. Januardi, S.Pt.,M.M. menunjukkan bahwa semangat belajar dan menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat tetap dapat diwujudkan.
Meski saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, bidang keilmuan yang ditekuninya tetap memiliki keterkaitan erat dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pejabat publik. Pengembangan sektor pariwisata saat ini tidak hanya bertumpu pada destinasi wisata, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi lokal melalui pendekatan terpadu yang menghubungkan potensi pertanian, perikanan, budaya dan ekonomi kreatif agar memiliki daya tarik wisata.
Gagasan yang dituangkan dalam Disertasinya mengenai penguatan budidaya Ikan Nila berbasis inovasi, ekonomi sirkular, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan dinilai dapat menjadi salah satu fondasi dalam pengembangan wisata berbasis potensi lokal (agro dan ecotourism). Kawasan budidaya perikanan, sentra pangan lokal, hingga desa-desa produktif memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi yang tidak hanya meningkatkan daya tarik daerah, tetapi juga memperluas sumber pendapatan masyarakat.
Bagi Dr. Budi, pembangunan daerah tidak dapat dipisahkan antara sektor, pengalamannya memimpin Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, hingga kini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menjadikan pentingnya kolaborasi dan sinergitas dalam pendayagunaan berbagai potensi daerah agar berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
*(AsepWE).
