‎Sikapi Kericuhan Kopdar Total Politik, DEMA UIN Jakarta: Gagasan Harus Dilawan Gagasan

Avatar of Redaksi
Redaksi
16 Jun 2026 21:59
2 menit membaca

‎Pojokpublik.id Jakarta — Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Hafizh, angkat bicara mengenai dinamika kegiatan Kopi Darat (Kopdar) Total Politik yang berakhir ricuh baru-baru ini.

‎​Hafizh menyampaikan keprihatinannya atas situasi tersebut. Kendati demikian, ia mengajak publik untuk melihat peristiwa tersebut secara lebih utuh dan tidak sekadar menyoroti kericuhan yang terjadi di permukaan.

‎​Menurut Hafizh, ekspresi kemarahan yang ditunjukkan oleh sebagian mahasiswa dalam acara tersebut merupakan hilir dari akumulasi kekecewaan yang selama ini dirasakan oleh generasi muda terhadap berbagai persoalan bangsa.

‎​”Kita tentu tidak mendorong atau membenarkan tindakan yang mengganggu jalannya diskusi. Namun, kita juga perlu memahami bahwa kemarahan yang muncul dari kawan-kawan mahasiswa kemungkinan merupakan akumulasi kekecewaan yang sudah lama terpendam,” ujar Hafizh dalam keterangan tertulis, Selasa (16/6/2026).

‎​Hafizh membeberkan, selama ini mahasiswa sudah berulang kali membuka ruang diskusi, menyampaikan kritik, menyusun rekomendasi, hingga melakukan kajian komprehensif.

‎Sayangnya, berbagai aspirasi tersebut kerap berhenti sebagai catatan tanpa adanya tindak lanjut nyata dari para pengambil kebijakan.

‎​Meski memahami pemantik konflik tersebut, Hafizh menegaskan bahwa jalan keluar dari persoalan bangsa bukanlah dengan memperlebar polarisasi, melainkan dengan memperkuat tradisi dialog yang sehat, setara, dan berorientasi pada pemecahan masalah.

‎​”Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, perbedaan tersebut harus dikelola melalui dialog yang konstruktif dan saling menghormati,” tuturnya.

‎​Lebih lanjut, Hafizh menekankan bahwa Indonesia saat ini membutuhkan demokrasi yang substantif—sebuah sistem yang tidak berhenti pada seremoni diskusi atau penyaluran aspirasi, melainkan mampu melahirkan perubahan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

‎​Sebagai bagian dari komunitas akademik, ia mengingatkan kembali bahwa kawasan Ciputat memiliki sejarah panjang sebagai ruang intelektual yang terbuka bagi berbagai gagasan dan perdebatan. Tradisi inilah yang harus terus dijaga sebagai fondasi kehidupan demokrasi.

‎​”Ciputat siap berdialog dengan siapa pun. Kami percaya bahwa gagasan harus dilawan dengan gagasan, argumentasi harus dijawab dengan argumentasi, dan kritik harus direspons dengan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat,” tegas Hafizh.

‎​Melalui momentum ini, DEMA UIN Jakarta mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk pemerintah, untuk menjadikan setiap ruang diskusi sebagai sarana memperkuat demokrasi, membangun kembali kepercayaan publik, dan mencari solusi bersama atas tantangan kebangsaan saat ini.

(Ds)

Hari Jadi Pandeglang