KBBI Wilayah Sumatera Selatan memadati jalanan dengan penuh semangat dalam aksi unjuk rasa pra May Day 2026.Pojokpublik.id Jakarta – Langit mendung sore itu tak menyurutkan langkah. Ratusan pekerja yang tergabung dalam Federasi SARBUPRI KBBI Wilayah Sumatera Selatan memadati jalanan dengan penuh semangat dalam aksi unjuk rasa pra May Day 2026.
Lautan merah dan hitam terlihat begitu gagah. Seragam, jaket, dan kaos bertuliskan “FEDERASI SARBUPRI” menjadi pemandangan yang mencolok, melambangkan solidaritas yang tak tergoyahkan antar sesama pekerja. Suasana terasa hidup, hiruk-pikuk namun tetap tertib, seiring orasi-orasi yang menggelegar memecah keheningan sore.
“Bentuk Dewan Pengupahan Sekarang!”
Terikmat seruan lantang itu berkali-kali dilontarkan. Seorang orator berdiri gagah di atas bak truk yang dijadikan panggung darurat, menyuarakan isi hati dengan gestur tegas. Di bawahnya, rekan-rekan seperjuangan berdiri bahu-membahu, ada yang duduk bersila di aspal, ada yang berjongkok, sesekali mengacungkan tangan tanda setuju atau mengabadikan momen bersejarah ini dengan ponsel masing-masing.
Bendera Merah Putih dan panji-panji organisasi berkibar kencang tertiup angin, berpadu dengan bentangan spanduk besar yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka.
Inti Tuntutan: Keadilan Upah Harus Dimulai dari Daerah
Aksi damai ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud ketegasan para buruh. Mereka menuntut pemerintah daerah segera merealisasikan pembentukan Dewan Pengupahan Kabupaten/Kota yang hingga saat ini masih mangkrak.
Bagi para pekerja, lembaga tripartit ini sangat vital. Dewan inilah yang nantinya akan memberikan pertimbangan strategis bagi Bupati atau Wali Kota dalam menentukan UMK, menetapkan upah minimum sektoral, hingga menyusun sistem pengupahan yang benar-benar adil dan beradab.
“Tanpa adanya Dewan Pengupahan, proses penetapan upah sering kali tertutup, tidak transparan, dan aspirasi buruh sulit terserap. Kami ingin keputusan upah nanti benar-benar mencerminkan kebutuhan hidup layak di daerah masing-masing,” tegas massa dalam orasinya.
Tuntutan ini juga menjadi bagian dari perjuangan luas menjelang Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026, yang menekankan pentingnya revisi upah minimum sektoral dan perlindungan hak-hak normatif lainnya.
Suara Satu untuk Kesejahteraan
Di antara deretan pohon kelapa dan bangunan khas kota Sumatera Selatan, semangat kolektif itu terasa begitu kuat. Mereka membuktikan bahwa demi nasib yang lebih baik, mereka siap bersatu dan bersuara.
Aksi ini menjadi pesan keras bagi pemangku kebijakan: Jangan lagi abaikan hak pekerja. Dewan Pengupahan harus segera hadir, agar kesejahteraan buruh di Sumatera Selatan bukan sekadar wacana, melainkan kenyataan yang bisa dirasakan.
