Diplomasi Aktif Prabowo, Gerindra: Indonesia Tak Lagi Jadi Penonton, Tapi Penentu

Avatar of Redaksi
Redaksi
2 Jun 2026 15:32
4 menit membaca

Pojokpublik.id Jakarta – Partai Gerindra memberikan tanggapan resmi atas kritik yang disampaikan diplomat senior Dino Patti Djalal terkait tingginya intensitas kunjungan kerja luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto. Menurut Juru Bicara Gerindra, Sugiat Santoso, langkah aktif yang ditempuh kepala negara merupakan strategi krusial untuk memperkokoh posisi dan pengaruh Indonesia di tengah persaingan geopolitik global yang semakin rumit dan dinamis.

Sugiat menyampaikan penghormatan penuh terhadap pandangan yang dilontarkan Dino sebagai pakar hubungan internasional berpengalaman. Kendati demikian, ia menilai lanskap dunia saat ini telah berubah drastis, sehingga menuntut pendekatan diplomasi yang berbeda dengan metode konvensional di masa silam.

“Kami sangat menghormati pendapat Pak Dino selaku diplomat senior. Namun, kita harus jujur melihat realitas konstelasi global yang sedang bergejolak. Di tengah ketegangan dunia saat ini, kehadiran langsung Pak Prabowo di panggung internasional bukan semata kunjungan belaka. Ini adalah langkah strategis agar Indonesia tidak hanya diam menjadi penonton, melainkan ikut menentukan arah kebijakan global yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional,” tegas Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI ini.

Menurutnya, cara pandang diplomasi klasik yang bekerja dari balik meja atau hanya menunggu laporan dinilai sudah tidak relevan. Diplomasi modern menempatkan kehadiran fisik, pertemuan tatap muka, dan komunikasi langsung antar-pemimpin negara sebagai mata uang paling bernilai.

“Mungkin kritik Pak Dino lahir dari perspektif diplomasi era lalu. Tapi hari ini, peta dunia sudah berbeda. Kebijakan luar negeri tak bisa lagi dijalankan hanya dari ruang kerja. Pak Prabowo sedang menerapkan apa yang disebut roadmap of influence. Jabat tangan dan dialog langsung antar-pemimpin adalah kekuatan utama diplomasi masa kini,” jelasnya.

Sugiat menegaskan, tingginya frekuensi kunjungan Presiden justru menjadi bukti bahwa nama Indonesia semakin diperhitungkan. Banyak negara yang justru meminta kehadiran Indonesia untuk terlibat dalam penyelesaian isu strategis dunia.

“Mengapa kunjungannya begitu intens? Jawabannya simpel: karena dunia yang meminta Indonesia hadir. Di tangan Pak Prabowo, Indonesia tak lagi berposisi sebagai objek pasif, melainkan subjek yang menentukan arah permainan,” ujarnya.

Ia menambahkan, Prabowo membawa posisi tawar yang sangat kuat. Indonesia kini dipandang sebagai raksasa ekonomi baru, suara terwakili negara berkembang (Global South), serta penyangga stabilitas di Asia Tenggara.

“Saat Pak Prabowo melawat, beliau tidak sedang mengetuk pintu meminta bantuan. Beliau hadir memenuhi undangan sebagai pemain kunci dunia. Kita harus ubah pola pikir tersebut,” tandasnya.

Lebih jauh, Sugiat menegaskan pola diplomasi Prabowo berjalan seimbang, menyapa negara-negara mitra baik dari blok Barat maupun Timur. Hal ini merupakan wujud nyata implementasi prinsip politik luar negeri bebas aktif yang menjadi warisan bangsa.

“Dulu kebijakan luar negeri kita dianggap kurang aktif. Kini, Pak Prabowo bergerak dinamis, berjejak ke Barat dan Timur secara adil. Pesannya jelas: Indonesia bersahabat dengan siapa saja, namun tidak bisa didikte oleh pihak mana pun. Itulah esensi kedaulatan,” katanya.

Ia juga menepis anggapan bahwa aktivitas luar negeri Presiden tidak berdampak langsung pada rakyat. Sebaliknya, seluruh kesepakatan yang dibangun bertujuan memperkuat fondasi kesejahteraan di dalam negeri, mulai dari ketahanan pangan, energi, hingga transfer teknologi dan investasi.

“Banyak yang berpikir urusan luar negeri itu jauh dari rakyat. Padahal justru di sanalah kuncinya. Saat beliau bicara energi, pangan, atau pertahanan di forum internasional, tujuannya tunggal: memastikan pasokan dalam negeri aman, investasi masuk, dan lapangan kerja terbuka lebar,” jelasnya.

Sugiat menilai Prabowo adalah tipe pemimpin yang bekerja cepat, terukur, dan fokus pada hasil konkret. Setiap agenda luar negeri disusun rapi dengan target pencapaian yang jelas, mulai dari kesepakatan strategis hingga pengakuan dunia terhadap posisi Indonesia.

“Dunia bergerak secepat kilat. Diplomasi lewat surat atau obrolan santai di meja makan sudah tak mempan. Pak Prabowo bekerja dengan hitungan pasti, apa yang dibawa pergi, apa yang harus dibawa pulang, semuanya terukur,” tegasnya.

Di akhir pernyataan, Sugiat menegaskan Partai Gerindra tetap menjaga sikap terbuka terhadap kritik dan masukan, termasuk dari Dino Patti Djalal. Ia justru mengajak para pakar hubungan internasional untuk berkolaborasi memberikan saran konstruktif demi kemajuan bangsa.

“Bagi kami, kritik dari tokoh seperti Pak Dino adalah vitamin bagi demokrasi. Kami justru mengundang beliau dan para ahli lain untuk turut memberi masukan. Mari kita kawal bersama, agar posisi Indonesia yang sedang kuat-kuatnya di dunia ini, bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat,” pungkasnya.

Hari Jadi Pandeglang