Seren Taun Cisungsang di Panggung KEN 2026: Antara Promosi Budaya dan Ekonomi Masyarakat Adat

Avatar of Dhana Surya
Dhana Surya
1 Okt 2026 16:24
Daerah 0
4 menit membaca

 

PojokPublik.id ,Kasepuhan Cisungsang, 30 September 2026 — Seren Taun Kasepuhan Cisungsang bukan sekadar perayaan panen. Bagi masyarakat adat, ritual ini merupakan bagian dari siklus kehidupan sekaligus bentuk rasa syukur dan refleksi untuk menjaga hubungan manusia, alam, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Pada 2026, Seren Taun kembali mendapat panggung lebih luas setelah menjadi bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN). Perhelatan yang berlangsung pada 21–28 September 2026 itu tidak hanya menghadirkan rangkaian ritual adat, tetapi juga berbagai kegiatan pendukung seperti bazar pangan lokal dan UMKM, Festival Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), gastronomi pangan lokal, pertunjukan seni, seminar, permainan tradisional hingga kegiatan olahraga.
Kehadiran Seren Taun dalam KEN mempertemukan dua kepentingan, yaitu promosi kebudayaan dan pengembangan ekonomi masyarakat lokal.

Dari ritual adat menuju event pariwisata
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eli Susiyanti, S.H., M.H., M.M., dalam sambutannya pada Seren Taun Kasepuhan Cisungsang 2026 menekankan pentingnya menjaga budaya dan lingkungan sebagai bagian dari pembangunan pariwisata Banten yang berkelanjutan.
Bagi pemerintah, kebudayaan menjadi salah satu kekuatan utama pariwisata. Seren Taun bukan hanya memperkenalkan tradisi Kasepuhan kepada pengunjung, tetapi juga membuka ruang bagi berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Dr. Yosep Mohamad Holis, S.Hut., M.T., M.Sc. Menurutnya, kekuatan Cisungsang tidak hanya berada pada ritual Seren Taun, tetapi juga pada berbagai kesenian dan kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.
Dengan demikian, pengembangan pariwisata tidak semestinya hanya menjadikan masyarakat adat sebagai objek tontonan. Masyarakat harus tetap menjadi bagian utama dalam menentukan bagaimana kebudayaannya diperkenalkan.
Target Rp5,5 miliar dari perputaran ekonomi
Sekretaris Lembaga Adat Kasepuhan Cisungsang, Henriana Hatra Wijaya, menjelaskan bahwa Seren Taun Kasepuhan Cisungsang 2026 memang dirancang dengan mempertimbangkan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Penyelenggara menargetkan 50.000 pengunjung, terdiri dari sekitar 40.000 pengunjung lokal dan 10.000 pengunjung nasional. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan catatan 2025 sebanyak 16.800 pengunjung.
Untuk mendukung aktivitas ekonomi, penyelenggara menargetkan keterlibatan sekitar 350 UMKM atau stand, 50 akomodasi berupa homestay/hotel, serta lima tour operator atau paket perjalanan wisata. Nilai transaksi ekonomi juga diproyeksikan mencapai Rp5,5 miliar, dibandingkan sekitar Rp1,5 miliar pada event sebelumnya.
Henriana menegaskan bahwa kehadiran wisatawan diharapkan tidak hanya menghasilkan keramaian, tetapi juga memberikan manfaat kepada masyarakat yang menjadi pemilik kebudayaan.
Target tersebut masih merupakan proyeksi penyelenggara, bukan angka realisasi. Namun, target itu menunjukkan bahwa Seren Taun mulai diposisikan sebagai ekosistem ekonomi, bukan hanya agenda ritual.

Bazar pangan lokal dan ekonomi masyarakat
Salah satu ruang yang mempertemukan kebudayaan dengan ekonomi adalah Bazar Pangan Lokal Kasepuhan Cisungsang.
Berbagai pangan lokal seperti papais, bugis, opak, uli, ali, dodol dan gengsot diperkenalkan dalam rangkaian kegiatan. Selain bazar, terdapat pula workshop gastronomi yang melibatkan perempuan adat dan pemuda adat.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan pangan lokal dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Hal serupa terlihat dari keterlibatan Daripohonaren, usaha milik pemuda adat Juhendi yang mengembangkan produk berbasis gula aren. Produk tersebut turut hadir dalam Bazar Pangan Lokal Kasepuhan Cisungsang 2026.
Bagi Juhendi, ruang seperti Seren Taun memberikan kesempatan bagi produk masyarakat adat untuk bertemu langsung dengan konsumen dari luar daerah.
Kehadiran Daripohonaren sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda dapat mengambil peran dalam mengembangkan potensi lokal menjadi produk ekonomi kreatif tanpa harus meninggalkan identitas asalnya.
Budaya tetap menjadi fondasi
Meski memiliki potensi ekonomi, Seren Taun tetap memiliki batas yang tidak dapat dilepaskan dari nilai adat. Seren Taun merupakan ritual puncak dan refleksi masyarakat Kasepuhan Cisungsang dalam memperkuat jati diri sebagai masyarakat peladang yang menjaga keseimbangan alam dan lingkungan.
Karena itu, Henriana menekankan pentingnya menempatkan masyarakat adat sebagai subjek utama dalam pengembangan pariwisata di Cisungsang.
Seren Taun tidak lahir sebagai pertunjukan wisata. Tradisi tersebut telah hidup jauh sebelum masuk ke kalender pariwisata nasional. Wisatawan datang untuk melihat tradisi yang memang masih dijalankan masyarakat.
Di sinilah tantangannya: bagaimana promosi pariwisata dapat memperluas manfaat ekonomi tanpa menggeser makna dan nilai adat.

KEN bukan tujuan akhir
Masuknya Seren Taun ke dalam KEN 2026 memberikan peluang besar bagi Kasepuhan Cisungsang untuk memperkenalkan budaya sekaligus produk masyarakat kepada khalayak yang lebih luas. Namun, ukuran keberhasilannya tidak cukup hanya dengan jumlah pengunjung atau kemeriahan acara.
Yang lebih penting adalah apakah masyarakat lokal memperoleh peluang usaha, apakah produk UMKM mendapatkan pasar baru, apakah pemuda dan perempuan adat semakin terlibat, serta apakah manfaat ekonomi tersebut dapat berlanjut setelah rangkaian Seren Taun berakhir.
Target Rp5,5 miliar menunjukkan besarnya harapan ekonomi yang dibangun melalui event ini. Namun, manfaat nyata baru dapat dilihat melalui seberapa besar transaksi tersebut benar-benar berputar di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, Seren Taun Cisungsang di panggung KEN 2026 memperlihatkan bahwa budaya dapat menjadi kekuatan pariwisata sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat adat.
Tantangannya adalah memastikan masyarakat Kasepuhan tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi tetap menjadi subjek utama yang menentukan arah kebudayaannya dan menerima manfaat dari berkembangnya pariwisata di wilayahnya sendiri.

Hari Jadi Pandeglang