Pojokpublik.id Lebak – Menjelang bulan suci Ramadan, suasana berbeda terlihat di Kampung Pasir Pogor, Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten. Bukan persiapan pasar Ramadan atau kegiatan keagamaan yang lebih dulu ramai, melainkan puluhan warga berkumpul di sepanjang jalan utama kampung dengan cangkul, sekop, dan gerobak dorong di tangan.
Di bawah terik matahari, warga bergantian mengaduk semen, mengangkut pasir dan batu, lalu meratakan coran. Tawa, candaan, dan teriakan saling menyemangati terdengar di sela pekerjaan berat itu. Mereka tidak sedang membangun rumah, melainkan memperbaiki jalan poros kabupaten akses utama yang setiap hari mereka lalui.
Jalan tersebut telah lama rusak dan berlubang. Saat hujan turun, permukaannya berubah menjadi kubangan licin. Tak sedikit pengendara motor terjatuh. Warga mengaku sudah terlalu sering menyaksikan kecelakaan terjadi di lokasi itu.
Pada 15 Februari 2026, warga akhirnya memutuskan tidak lagi hanya menunggu.
Perbaikan jalan dilakukan murni dari swadaya masyarakat, meskipun status jalan merupakan kewenangan pemerintah kabupaten. Warga patungan membeli material, sementara tenaga kerja berasal dari masyarakat sendiri.
Ketua RT setempat, Rohedi, mengatakan pihaknya sebenarnya telah berulang kali mengajukan perbaikan melalui pemerintah desa agar diteruskan ke pemerintah daerah.
“Pihak desa sudah meninjau dan akan diajukan karena ini jalan poros kabupaten,” ujar Rohedi kepada awak media.
Namun waktu terus berjalan, sementara kondisi jalan semakin membahayakan. Kekhawatiran warga pun meningkat karena kecelakaan terus terjadi.
Akhirnya, Rohedi bersama koordinator kampung mengajak masyarakat bergerak. Tanpa menunggu anggaran turun, warga sepakat melakukan pengecoran jalan secara mandiri.
Mereka iuran membeli semen, pasir, dan batu. Pemerintah Desa Tambakbaya turut membantu dengan menyumbangkan tujuh sak semen.
Bagi warga, ini bukan sekadar memperbaiki jalan, melainkan soal keselamatan.
Koordinator Kampung Pasir Pogor menilai kekompakan masyarakat menjadi kekuatan utama pembangunan di tingkat kampung.
“Semangat kebersamaan seperti ini patut menjadi contoh. Ketika masyarakat kompak dan saling mendukung, pekerjaan berat terasa ringan dan hasilnya bisa langsung dirasakan,” katanya.
Meski pengecoran telah dilakukan, warga tetap berharap pemerintah daerah memberikan perhatian serius. Mereka menegaskan, jalan tersebut merupakan jalan poros kabupaten yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Kini jalan mulai membaik dan bisa dilalui lebih aman. Warga berharap, selain menunjang aktivitas sosial, perbaikan itu juga membantu perekonomian masyarakat. Namun di balik coran beton yang mengeras, tersimpan satu pesan yang jelas gotong royong mampu bergerak cepat, sementara harapan pada pemerintah masih menunggu jawaban. (Dhana)






