Nasional

HKTI Integrasikan Hutan, Pesisir, dan Laut Lewat Program Agroforestri dan SINBO Pisang

Avatar photo
×

HKTI Integrasikan Hutan, Pesisir, dan Laut Lewat Program Agroforestri dan SINBO Pisang

Sebarkan artikel ini
HKTI Integrasikan Hutan, Pesisir, dan Laut Lewat Program Agroforestri dan SINBO Pisang I PojokPublik
Foto: Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia.

Pojokpublik.id Jakarta – Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI) menggelar Rapat Pimpinan di Kantor Kementerian Pendidikan, Jakarta, Selasa (10/2/2026). Pertemuan tersebut membahas arah strategis penguatan sektor pertanian, kehutanan, dan pesisir melalui pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan.

Dalam rapat itu, DPN HKTI memaparkan rencana pengembangan 11 lokasi percontohan optimalisasi agroforestri yang akan dijadikan pilot project nasional. Program ini dirancang berbasis kemitraan antara petani, masyarakat lokal, koperasi, serta pemangku kepentingan terkait.

Wakil Bendahara Umum DPN HKTI, Camelia Panduwinata Lubis, mengatakan pengembangan agroforestri tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan.

“Program ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sekaligus memastikan kelestarian hutan tetap terjaga. Kami ingin petani mendapatkan manfaat ekonomi tanpa merusak lingkungan,” ujar Camelia.

Selain itu, DPN HKTI juga memperkenalkan Model SINBO Pasar sebagai ekosistem pemasaran terintegrasi yang menghubungkan produksi, pengolahan, hingga distribusi hasil pertanian dan kehutanan rakyat.

Menurut Camelia, model tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi tawar petani serta pelaku usaha kecil di desa.

“Selama ini persoalan utama petani bukan hanya produksi, tetapi pemasaran. SINBO Pasar dirancang agar rantai distribusi lebih pendek dan harga jual lebih berpihak kepada petani,” katanya.

Pengembangan agroforestri juga dikombinasikan dengan kawasan hutan sosial, khususnya di wilayah pesisir. Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui komoditas pisang dalam skema SINBO Pisang.

“Pisang dipilih karena adaptif terhadap kawasan pantai, masa panennya relatif cepat, dan nilai ekonominya tinggi. Ini bisa menjadi penggerak ekonomi masyarakat pesisir,” tambahnya.

HKTI juga mendorong integrasi kehutanan, laut, dan pantai dalam satu model pembangunan terpadu, termasuk penguatan ekonomi nelayan serta pengolahan hasil perikanan.

“Tujuan akhirnya adalah kemandirian ekonomi desa. Petani, masyarakat pesisir, dan nelayan harus menjadi pelaku utama dalam sistem ekonomi yang sehat dan berkelanjutan,” tutup Camelia.