
Pojokpublik.id Jakarta — Sebuah perjalanan panjang pengabdian akhirnya membawanya pulang ke tanah kelahiran. Teuku Rahmatsyah, S.H., M.Kn., resmi dilantik Jaksa Agung ST Burhanuddin sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh, di Aula Lantai 11 Gedung Utama Kejaksaan Agung, Selasa (11/8/2026). Penunjukan ini bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan kembalinya seorang putra daerah yang ditempa di berbagai penjuru negeri untuk membawa pengalaman dan kematangan memimpin penegakan hukum di Serambi Mekkah.
Dalam amanatnya, Jaksa Agung mengingatkan bahwa pelantikan ini berlangsung di saat institusi sedang diuji pandangan publik.
“Jabatan bukan sekadar kedudukan atau kehormatan, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan integritas, profesionalitas, dan kerendahan hati,” pesan yang kini menjadi pedoman bagi Teuku Rahmatsyah.
Ia diminta segera memetakan persoalan wilayah, menegakkan hukum secara senyap namun tegas, serta membangun kepercayaan masyarakat kembali melalui kinerja yang transparan dan berkeadilan.
Profil Singkat: Jejak Langkah Putra Banda Aceh
Teuku Rahmatsyah lahir di Banda Aceh, 31 Maret 1973. Sejak muda, ia telah menanamkan tekad untuk mengabdi melalui jalur hukum. Menamatkan pendidikan dasar dan menengah di kampung halaman, ia meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Syiah Kuala, kemudian melanjutkan studi hingga meraih gelar Magister Kenotariatan dari Universitas Sumatera Utara.
Langkah pengabdiannya dimulai dari Aceh, lalu ditempa di berbagai daerah dan posisi strategis: memimpin Kejaksaan Negeri Aceh Utara, menjabat Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Aceh, kemudian dipercaya memimpin Kejaksaan Negeri Medan dan Kejaksaan Negeri Malang.
Pengalaman di tingkat pusat sebagai Koordinator pada Jaksa Agung Muda Intelijen, serta jabatan Wakil Kepala Kejati NTT dan terakhir Wakil Kepala Kejati Lampung, telah membentuknya menjadi sosok yang matang, luas wawasannya, dan tenang dalam memimpin.
Kini, setelah berkelana mengabdi dari Sabang hingga pulau-pulau timur Indonesia, Teuku Rahmatsyah kembali ke tanah kelahirannya. Membawa bekal pengalaman puluhan tahun, ia hadir bukan sekadar memimpin, melainkan mendengarkan, bersinergi, dan menegakkan keadilan yang terasa dekat oleh setiap lapisan masyarakat Aceh.
