Perlon Unggahan Banokeling, Tradisi Leluhur Menyambut Ramadan di Banyumas

Avatar of Redaksi
Redaksi
14 Feb 2026 18:32
Daerah 0
2 menit membaca

Pojokpublik.id Banyumas – Perlon Unggahan Banokeling, Tradisi Leluhur Menyambut Ramadan di Banyumas
Banyumas  Kabut pagi masih menggantung di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, ketika rombongan masyarakat adat mulai berdatangan. Mereka berjalan kaki tanpa alas, sebagian menempuh perjalanan dari wilayah Cilacap seperti Kalikudi, Tambakreja hingga Adiraja.

Dengan busana adat Jawa serba hitam dan perempuan berkemben berselendang putih, para anak putu Banokeling pulang ke tanah leluhur untuk mengikuti tradisi tahunan Perlon Unggahan menjelang Ramadan 1447 Hijriah.

Tradisi masyarakat adat Bonokeling tersebut digelar pada 12–14 Februari 2026 dengan puncak kegiatan berlangsung Jumat (13/2/2026). Bagi warga Pekuncen, ritual ini bukan sekadar kegiatan budaya, melainkan perjalanan spiritual yang diwariskan turun-temurun.

Rangkaian kegiatan diawali Kamis (12/2/2026) dengan kedatangan para tamu atau anak putu Banokeling dari luar daerah. Malam harinya dilaksanakan malem neda atau makan bersama yang dilanjutkan doa bersama.
Pada hari berikutnya, warga melaksanakan memasak bersama sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong.

Setelah itu dilaksanakan pisowanan Eyang Bonokeling, yakni ziarah kepada leluhur, serta prosesi mbabar sebagai bagian inti ritual. Sabtu pagi (14/2/2026) para tamu dilepas kembali ke daerah masing-masing.

Prosesi dipimpin oleh kyai kunci atau sesepuh adat. Tradisi ini memiliki kemiripan dengan Nyadran atau Sadranan yang dilakukan masyarakat Jawa menjelang Ramadan, yakni berdoa, bersedekah, dan membersihkan makam leluhur sebagai bentuk persiapan lahir batin memasuki bulan suci.

Secara filosofis, berjalan kaki tanpa alas melambangkan kerendahan hati manusia di hadapan Tuhan. Busana hitam yang dikenakan kaum laki-laki dimaknai sebagai simbol kelanggengan tradisi, sementara selendang putih pada perempuan melambangkan kesucian niat.

Selain nilai spiritual, Perlon Unggahan juga mengandung nilai sosial. Warga membawa tenong berisi makanan atau hasil bumi untuk dibagikan kepada kerabat dan masyarakat. Tradisi ini menjadi sarana silaturahmi keluarga besar serta mengajarkan gotong royong, berbagi rezeki, dan penghormatan kepada leluhur.

Perlon Unggahan merupakan wujud akulturasi Islam dan adat Jawa. Tradisi yang dilaksanakan pada bulan Ruwah (Sya’ban) ini dimaknai sebagai upaya pensucian diri sebelum Ramadan. Meski zaman berubah, masyarakat adat Bonokeling tetap menjaga pelaksanaannya agar tidak kehilangan makna spiritual.

Kini, tradisi tersebut juga mulai menarik perhatian pengunjung. Namun masyarakat tetap mempertahankan kesakralannya. Perlon Unggahan bukan sekadar tontonan budaya, melainkan pengingat bahwa menyambut Ramadan bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga mempererat persaudaraan dan menjaga hubungan dengan leluhur. (Efendi)

Pers Nasional
x
x