Pojokpublik.id Jakarta – Menyambut tahun baru 2026, Pengamat Pertahanan sekaligus alumni Universitas Pertahanan (UNHAN) RI, Ario Seno, menilai profesi Analis Pertahanan Negara (APN) akan semakin berkembang dan dibutuhkan.
Kompleksitas ancaman pertahanan yang kian dinamis menuntut kehadiran analis yang mampu menjembatani kebijakan negara dengan pemahaman publik secara rasional, objektif, dan berbasis analisis bukan sekadar jargon.
Menurut Ario, diskursus pertahanan di ruang publik selama ini masih cenderung dangkal. Masyarakat kerap hanya disuguhi informasi teknis seputar alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam), tanpa penjelasan strategis mengenai urgensi, konteks, serta alasan pemilihannya.
“Saya sering melihat di media sosial, setiap ada pengadaan alpalhankam baru, selalu muncul komentar seperti ‘beli pesawat tempur buat apa, memang mau perang?’ atau ‘perang sama siapa?’ Komentar semacam itu wajar, tetapi menunjukkan minimnya informasi analitis. Publik jarang mendapat penjelasan mengapa alpalhankam tersebut dibutuhkan dan mengapa harus jenis tertentu,” ujar Ario di Jakarta, Kamis (2/1/2026).
Ia menegaskan, di sinilah peran APN menjadi krusial. Kehadiran analis pertahanan tidak boleh sebatas formalitas birokrasi, melainkan sebagai produsen analisis strategis yang dapat dipahami publik, berbasis kepentingan nasional, dan mampu memperkaya kualitas diskursus pertahanan.
Ario juga menilai Indonesia tidak kekurangan sumber daya manusia untuk mengisi peran tersebut. Isu pertahanan kini telah menjadi perhatian lintas generasi, mulai dari baby boomer hingga Generasi Z. Seiring itu, minat akademik di bidang pertahanan terus menunjukkan peningkatan.
“APN merupakan jabatan fungsional di lingkungan Kementerian Pertahanan RI. Pintu masuknya jelas, melalui Kemhan sebagai instansi pembina. Secara prosedural sudah ada, hanya saja selama ini belum benar-benar dioptimalkan. Jika jabatan ini dibuka dan diberdayakan secara serius, peminat dari kalangan akademisi akan sangat banyak. Kita tidak kekurangan SDM, yang masih kurang adalah wadahnya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ario mengaitkan urgensi APN dengan konsep Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta) yang dianut Indonesia. Dalam sistem tersebut, pertahanan negara tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer dan persenjataan, tetapi juga melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Pertahanan yang kuat membutuhkan kesadaran publik yang kuat. APN berperan penting dalam membangun kesadaran itu. Tanpa pemahaman masyarakat, konsep pertahanan semesta hanya akan menjadi slogan,” ujarnya.
Ia menutup dengan menekankan bahwa jika Indonesia ingin memiliki sistem pertahanan yang tangguh dan berdaya gentar di kawasan, maka pemberdayaan Analis Pertahanan Negara bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan strategis nasional.













